{"id":1520,"date":"2023-07-26T01:23:05","date_gmt":"2023-07-26T01:23:05","guid":{"rendered":"https:\/\/statorials.org\/id\/nilai-p-vs-alfa\/"},"modified":"2023-07-26T01:23:05","modified_gmt":"2023-07-26T01:23:05","slug":"nilai-p-vs-alfa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/statorials.org\/id\/nilai-p-vs-alfa\/","title":{"rendered":"Nilai p vs. alfa: apa bedanya?"},"content":{"rendered":"<p><\/p>\n<hr>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Dua istilah yang sering membingungkan siswa dalam statistik adalah <strong>p-value<\/strong> dan <strong>alpha<\/strong> .<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Kedua istilah tersebut digunakan dalam <a href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/pengujian-hipotesis-1\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pengujian hipotesis<\/a> , yaitu pengujian statistik formal yang kita gunakan untuk menolak atau gagal menolak suatu hipotesis.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Misalnya, kita berhipotesis bahwa pil baru menurunkan tekanan darah pasien lebih banyak dibandingkan pil standar saat ini.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Untuk mengujinya, kita dapat melakukan uji hipotesis di mana kita mendefinisikan hipotesis nol dan hipotesis alternatif berikut:<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Hipotesis nol:<\/strong> Tidak ada perbedaan antara pil baru dan pil standar.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Hipotesis alternatif:<\/strong> <em>Terdapat<\/em> perbedaan antara pil baru dan pil standar.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Jika kita berasumsi bahwa hipotesis nol benar, <strong>nilai p<\/strong> dari pengujian tersebut memberi tahu kita kemungkinan memperoleh pengaruh setidaknya sama besar dengan pengaruh yang sebenarnya kita amati dalam data sampel.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Misalnya, kita menemukan bahwa nilai p untuk uji hipotesis adalah 0,02.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Berikut cara menginterpretasikan nilai p ini: Jika memang tidak ada perbedaan antara pil baru dan pil standar, maka 2% dari waktu kita menjalankan uji hipotesis ini, kita akan mendapatkan efek yang diamati pada sampel data, atau lebih, hanya karena kesalahan pengambilan sampel secara acak.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Hal ini menunjukkan bahwa perolehan sampel data yang sebenarnya kami lakukan akan sangat jarang terjadi jika memang tidak ada perbedaan antara pil baru dan pil standar.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Oleh karena itu, kita cenderung menolak hipotesis nol dan menyimpulkan bahwa <em>terdapat<\/em> perbedaan antara pil baru dan pil standar.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Namun ambang batas apa yang harus kita gunakan untuk menentukan apakah nilai p kita cukup rendah untuk menolak hipotesis nol?<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Di sinilah alfa berperan!<\/span><\/p>\n<h3> <span style=\"color: #000000;\"><strong>tingkat alfa<\/strong><\/span><\/h3>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Tingkat alfa<\/strong> uji hipotesis adalah ambang batas yang kita gunakan untuk menentukan apakah nilai p kita cukup rendah untuk menolak hipotesis nol. Seringkali disetel pada 0,05, namun terkadang disetel pada 0,01 atau 0,10.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Misalnya, jika kita menetapkan tingkat alfa uji hipotesis menjadi 0,05 dan memperoleh nilai p sebesar 0,02, kita akan menolak hipotesis nol karena nilai p lebih kecil dari tingkat alfa. Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa kita mempunyai cukup bukti untuk mengatakan bahwa hipotesis alternatif itu benar.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Penting untuk dicatat bahwa tingkat alfa juga menentukan kemungkinan penolakan yang salah terhadap hipotesis nol yang sebenarnya.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Misalnya, kita ingin menguji apakah ada perbedaan rata-rata penurunan tekanan darah antara pil baru dan pil saat ini. Dan anggaplah <em>tidak<\/em> ada perbedaan antara kedua pil tersebut.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Jika kita menetapkan tingkat alfa uji hipotesis pada 0,05, ini berarti bahwa jika kita mengulangi proses pengujian hipotesis beberapa kali, kita akan menerima penolakan palsu terhadap hipotesis nol pada sekitar 5% kasus. tes.<\/span><\/p>\n<h3> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Bagaimana memilih level Alfa<\/strong><\/span><\/h3>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Seperti disebutkan sebelumnya, pilihan paling umum untuk tingkat alfa uji hipotesis adalah 0,05. Namun, dalam beberapa situasi di mana kesimpulan yang salah menyebabkan konsekuensi yang serius, kita dapat menetapkan tingkat alfa lebih rendah lagi, mungkin 0,01.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Misalnya, dalam bidang kedokteran, peneliti biasanya menetapkan tingkat alfa sebesar 0,01 karena ingin memastikan bahwa hasil uji hipotesis dapat diandalkan.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Sebaliknya, dalam bidang seperti pemasaran, mungkin lebih umum untuk menetapkan tingkat alfa lebih tinggi, misalnya 0,10, karena konsekuensi dari melakukan kesalahan bukanlah hidup atau mati.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Perlu dicatat bahwa meningkatkan tingkat alfa suatu pengujian akan meningkatkan kemungkinan menemukan hasil pengujian yang signifikan, namun juga akan meningkatkan kemungkinan bahwa kita akan salah menolak hipotesis nol yang sebenarnya.<\/span><\/p>\n<h3> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Ringkasan:<\/strong><\/span><\/h3>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Inilah yang kami pelajari di artikel ini:<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>1.<\/strong> <strong>Nilai p<\/strong> memberi tahu kita kemungkinan memperoleh suatu pengaruh setidaknya sebesar pengaruh yang sebenarnya kita amati dalam data sampel.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>2.<\/strong> <strong>Tingkat alfa<\/strong> adalah kemungkinan salahnya menolak hipotesis nol yang sebenarnya.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>3.<\/strong> Jika nilai p suatu uji hipotesis kurang dari tingkat alpha, maka hipotesis nol dapat ditolak.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>4.<\/strong> Menaikkan tingkat alfa suatu pengujian akan meningkatkan kemungkinan kita mendapatkan hasil pengujian yang signifikan, namun hal ini juga meningkatkan kemungkinan bahwa kita akan salah menolak hipotesis nol yang sebenarnya.<\/span><\/p>\n<h3> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Sumber daya tambahan<\/strong><\/span><\/h3>\n<p> <a href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/pengujian-hipotesis-1\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pengantar Pengujian Hipotesis<\/a><br \/> <a href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/cara-menulis-hipotesis-nol\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Cara Menulis Hipotesis Nol (5 Contoh)<\/a><br \/><a href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/uji-ekor-kiri-vs-uji-ekor-kanan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bagaimana Mengidentifikasi Kiri vs. Tes Benar<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dua istilah yang sering membingungkan siswa dalam statistik adalah p-value dan alpha . Kedua istilah tersebut digunakan dalam pengujian hipotesis , yaitu pengujian statistik formal yang kita gunakan untuk menolak atau gagal menolak suatu hipotesis. Misalnya, kita berhipotesis bahwa pil baru menurunkan tekanan darah pasien lebih banyak dibandingkan pil standar saat ini. Untuk mengujinya, kita [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.5 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Nilai P vs. Alfa: Apa Bedanya?<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Tutorial ini menjelaskan perbedaan antara nilai p dan alfa dalam statistik, dengan beberapa contoh.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/nilai-p-vs-alfa\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Nilai P vs. Alfa: Apa Bedanya?\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Tutorial ini menjelaskan perbedaan antara nilai p dan alfa dalam statistik, dengan beberapa contoh.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/statorials.org\/id\/nilai-p-vs-alfa\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Statorials\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-07-26T01:23:05+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Benjamin anderson\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Benjamin anderson\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/nilai-p-vs-alfa\/\",\"url\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/nilai-p-vs-alfa\/\",\"name\":\"Nilai P vs. Alfa: Apa Bedanya?\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/#website\"},\"datePublished\":\"2023-07-26T01:23:05+00:00\",\"dateModified\":\"2023-07-26T01:23:05+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/3d17a1160dd2d052b7c78e502cb9ec81\"},\"description\":\"Tutorial ini menjelaskan perbedaan antara nilai p dan alfa dalam statistik, dengan beberapa contoh.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/nilai-p-vs-alfa\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/statorials.org\/id\/nilai-p-vs-alfa\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/nilai-p-vs-alfa\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Nilai p vs. alfa: apa bedanya?\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/\",\"name\":\"Statorials\",\"description\":\"Panduan anda untuk kompetensi statistik!\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/3d17a1160dd2d052b7c78e502cb9ec81\",\"name\":\"Benjamin anderson\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"http:\/\/statorials.org\/id\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Dr.-Benjamin-Anderson-96x96.jpg\",\"contentUrl\":\"http:\/\/statorials.org\/id\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Dr.-Benjamin-Anderson-96x96.jpg\",\"caption\":\"Benjamin anderson\"},\"description\":\"Halo, saya Benjamin, pensiunan profesor statistika yang menjadi guru Statorial yang berdedikasi. Dengan pengalaman dan keahlian yang luas di bidang statistika, saya ingin berbagi ilmu untuk memberdayakan mahasiswa melalui Statorials. Baca selengkapnya\",\"sameAs\":[\"http:\/\/statorials.org\/id\"]}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Nilai P vs. Alfa: Apa Bedanya?","description":"Tutorial ini menjelaskan perbedaan antara nilai p dan alfa dalam statistik, dengan beberapa contoh.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/statorials.org\/id\/nilai-p-vs-alfa\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Nilai P vs. Alfa: Apa Bedanya?","og_description":"Tutorial ini menjelaskan perbedaan antara nilai p dan alfa dalam statistik, dengan beberapa contoh.","og_url":"https:\/\/statorials.org\/id\/nilai-p-vs-alfa\/","og_site_name":"Statorials","article_published_time":"2023-07-26T01:23:05+00:00","author":"Benjamin anderson","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Benjamin anderson","Estimasi waktu membaca":"3 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/nilai-p-vs-alfa\/","url":"https:\/\/statorials.org\/id\/nilai-p-vs-alfa\/","name":"Nilai P vs. Alfa: Apa Bedanya?","isPartOf":{"@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/#website"},"datePublished":"2023-07-26T01:23:05+00:00","dateModified":"2023-07-26T01:23:05+00:00","author":{"@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/3d17a1160dd2d052b7c78e502cb9ec81"},"description":"Tutorial ini menjelaskan perbedaan antara nilai p dan alfa dalam statistik, dengan beberapa contoh.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/nilai-p-vs-alfa\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/statorials.org\/id\/nilai-p-vs-alfa\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/nilai-p-vs-alfa\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/statorials.org\/id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Nilai p vs. alfa: apa bedanya?"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/#website","url":"https:\/\/statorials.org\/id\/","name":"Statorials","description":"Panduan anda untuk kompetensi statistik!","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/statorials.org\/id\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/3d17a1160dd2d052b7c78e502cb9ec81","name":"Benjamin anderson","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"http:\/\/statorials.org\/id\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Dr.-Benjamin-Anderson-96x96.jpg","contentUrl":"http:\/\/statorials.org\/id\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Dr.-Benjamin-Anderson-96x96.jpg","caption":"Benjamin anderson"},"description":"Halo, saya Benjamin, pensiunan profesor statistika yang menjadi guru Statorial yang berdedikasi. Dengan pengalaman dan keahlian yang luas di bidang statistika, saya ingin berbagi ilmu untuk memberdayakan mahasiswa melalui Statorials. Baca selengkapnya","sameAs":["http:\/\/statorials.org\/id"]}]}},"yoast_meta":{"yoast_wpseo_title":"","yoast_wpseo_metadesc":"","yoast_wpseo_canonical":""},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1520"}],"collection":[{"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1520"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1520\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1520"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1520"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1520"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}