{"id":1536,"date":"2023-07-25T23:47:12","date_gmt":"2023-07-25T23:47:12","guid":{"rendered":"https:\/\/statorials.org\/id\/koefisien-korelasi-intrakelas\/"},"modified":"2023-07-25T23:47:12","modified_gmt":"2023-07-25T23:47:12","slug":"koefisien-korelasi-intrakelas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/statorials.org\/id\/koefisien-korelasi-intrakelas\/","title":{"rendered":"Koefisien korelasi intrakelas: definisi + contoh"},"content":{"rendered":"<p><\/p>\n<hr>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><strong>Koefisien korelasi intrakelas<\/strong> (ICC) digunakan untuk mengukur <a href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/analisis-keandalan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">reliabilitas<\/a> skor dalam studi di mana terdapat dua atau lebih penilai.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Nilai ICC dapat berkisar dari 0 hingga 1, dengan 0 menunjukkan tidak ada keandalan di antara penilai dan 1 menunjukkan keandalan sempurna di antara penilai.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Sederhananya, ICC digunakan untuk menentukan apakah item (atau topik) dapat dinilai secara andal oleh penilai yang berbeda.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Ada beberapa versi berbeda dari ICC yang dapat dihitung, bergantung pada tiga faktor berikut:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Model:<\/strong> efek acak satu arah, efek acak dua arah, atau efek campuran dua arah<\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Jenis hubungan:<\/strong> konsistensi atau kesepakatan mutlak<\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Unit:<\/strong> penilai tunggal atau rata-rata penilai<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Berikut penjelasan singkat ketiga <strong>model<\/strong> berbeda tersebut:<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>1. Model efek acak satu arah:<\/strong> Model ini mengasumsikan bahwa setiap mata pelajaran dievaluasi oleh kelompok penilai berbeda yang dipilih secara acak. Dengan model ini, penilai dianggap sebagai sumber efek acak. Model ini jarang digunakan dalam praktik karena kelompok penilai yang sama umumnya digunakan untuk menilai setiap mata pelajaran.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>2. Model efek acak dua arah:<\/strong> Model ini mengasumsikan bahwa sekelompok penilai <em>k<\/em> dipilih secara acak dari suatu populasi dan kemudian digunakan untuk menilai subjek. Dengan menggunakan model ini, penilai dan subjek dianggap sebagai sumber efek acak. Model ini sering digunakan ketika kita ingin menggeneralisasi hasil kita kepada penilai yang serupa dengan yang digunakan dalam penelitian.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>3. Model efek campuran dua arah:<\/strong> Model ini juga mengasumsikan bahwa sekelompok penilai <em>k<\/em> dipilih secara acak dari suatu populasi dan kemudian digunakan untuk menilai subjek. Namun, model ini mengasumsikan bahwa kelompok penilai yang kami pilih adalah <em>satu-satunya<\/em> penilai yang berkepentingan, artinya kami tidak ingin menggeneralisasikan hasil kami kepada penilai lain yang mungkin juga memiliki karakteristik serupa dengan penilai yang digunakan dalam penelitian ini.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Berikut ini penjelasan singkat tentang dua <strong>jenis hubungan<\/strong> berbeda yang mungkin ingin kita ukur:<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>1. Konsistensi:<\/strong> Kami tertarik pada perbedaan sistematis antara penilaian para juri (misalnya, apakah para juri menilai topik serupa sebagai rendah dan tinggi?)<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>2. Kesepakatan mutlak:<\/strong> kami tertarik pada perbedaan mutlak antara nilai para juri (misalnya, berapakah perbedaan mutlak antara nilai hakim A dan hakim B?)<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Berikut adalah penjelasan singkat tentang dua <strong>unit<\/strong> berbeda yang mungkin menarik bagi kami:<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>1. Peninjau tunggal:<\/strong> Kami hanya ingin menggunakan penilaian satu pengulas sebagai dasar pengukuran.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>2. Rata-rata penilai:<\/strong> Kami ingin menggunakan rata-rata skor seluruh juri sebagai dasar pengukuran.<\/span><\/p>\n<p> <em><span style=\"color: #000000;\"><strong>Catatan:<\/strong> Jika Anda ingin mengukur tingkat kesepakatan antara dua penilai yang melewatkan setiap item pada <a href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/variabel-dikotomis-1\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">hasil dikotomis<\/a> , Anda sebaiknya menggunakan <a href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/statistik-cohens-kappa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kappa Cohen<\/a> .<\/span><\/em><\/p>\n<h3> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Bagaimana menafsirkan koefisien korelasi intrakelas<\/strong><\/span><\/h3>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Berikut cara mengartikan nilai koefisien korelasi intrakelas menurut <a href=\"https:\/\/pubmed.ncbi.nlm.nih.gov\/27330520\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Koo &amp; Li<\/a> :<\/span><\/p>\n<ul>\n<li> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Kurang dari 0,50:<\/strong> keandalan buruk<\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Antara 0,5 dan 0,75:<\/strong> Keandalan sedang<\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Antara 0,75 dan 0,9:<\/strong> Keandalan yang baik<\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Lebih besar dari 0,9:<\/strong> Keandalan luar biasa<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Contoh berikut menunjukkan cara menghitung koefisien korelasi intrakelas dalam praktiknya.<\/span><\/p>\n<h3> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Contoh: Perhitungan koefisien korelasi intrakelas<\/strong><\/span><\/h3>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Misalkan empat juri berbeda diminta untuk mengevaluasi kualitas 10 ujian masuk perguruan tinggi yang berbeda. Hasilnya ditunjukkan di bawah ini:<\/span> <\/p>\n<p><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"aligncenter wp-image-15245\" src=\"https:\/\/statorials.org\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/icc1.png\" alt=\"Contoh penghitungan koefisien korelasi intrakelas\" width=\"354\" height=\"285\" srcset=\"\" sizes=\"\"><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Misalkan keempat juri dipilih secara acak dari populasi juri yang memenuhi syarat untuk ujian masuk dan kita ingin mengukur kesepakatan mutlak antara juri dan kita ingin menggunakan skor dari sudut pandang satu evaluator saja sebagai dasar pengukuran kita.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Kita dapat menggunakan kode berikut di R agar sesuai dengan <strong>model efek acak dua arah<\/strong> , menggunakan <strong>kesepakatan absolut<\/strong> sebagai hubungan antara penilai dan menggunakan unit <strong>tunggal<\/strong> sebagai unit kepentingan:<\/span><\/p>\n<pre style=\"background-color: #ececec; font-size: 15px;\"> <strong><span style=\"color: #008080;\">#load the interrater reliability package<\/span>\n<span style=\"color: #993300;\">library<\/span> (irr)\n\n<span style=\"color: #008080;\">#define data\n<\/span>data &lt;- data. <span style=\"color: #3366ff;\">frame<\/span> (A=c(1, 1, 3, 6, 6, 7, 8, 9, 8, 7),\n                   B=c(2, 3, 8, 4, 5, 5, 7, 9, 8, 8),\n                   C=c(0, 4, 1, 5, 5, 6, 6, 9, 8, 8),\n                   D=c(1, 2, 3, 3, 6, 4, 6, 8, 8, 9))\n\n<span style=\"color: #008080;\">#calculate ICC\n<\/span>icc(data, model = \" <span style=\"color: #008000;\">twoway<\/span> \", type = \" <span style=\"color: #008000;\">agreement<\/span> \", unit = \" <span style=\"color: #008000;\">single<\/span> \")\n\n   Model: twoway \n   Type: agreement \n\n   Subjects = 10 \n     Failures = 4 \n   ICC(A,1) = 0.782\n\n F-Test, H0: r0 = 0; H1: r0 &gt; 0 \n    F(9.30) = 15.3, p = 5.93e-09 \n\n 95%-Confidence Interval for ICC Population Values:\n  0.554 &lt; ICC &lt; 0.931<\/strong><\/pre>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Koefisien korelasi intrakelas (ICC) ditemukan sebesar <strong>0,782<\/strong> .<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Berdasarkan aturan praktis dalam menafsirkan ICC, kami dapat menyimpulkan bahwa ICC sebesar <strong>0,782<\/strong> menunjukkan bahwa ujian dapat dinilai dengan reliabilitas \u201cbaik\u201d oleh penilai yang berbeda.<\/span><\/p>\n<h3> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Sumber daya tambahan<\/strong><\/span><\/h3>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Tutorial berikut memberikan penjelasan rinci tentang cara menghitung ICC di berbagai software statistik:<\/span><\/p>\n<p> <a href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/koefisien-korelasi-intrakelas-unggul\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Cara Menghitung Koefisien Korelasi Intrakelas di Excel<\/a><br \/><a href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/koefisien-korelasi-intrakelas-r\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Cara menghitung koefisien korelasi intrakelas di R<\/a><br \/> <a href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/koefisien-korelasi-intrakelas-python\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Cara Menghitung Koefisien Korelasi Intrakelas dengan Python<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Koefisien korelasi intrakelas (ICC) digunakan untuk mengukur reliabilitas skor dalam studi di mana terdapat dua atau lebih penilai. Nilai ICC dapat berkisar dari 0 hingga 1, dengan 0 menunjukkan tidak ada keandalan di antara penilai dan 1 menunjukkan keandalan sempurna di antara penilai. Sederhananya, ICC digunakan untuk menentukan apakah item (atau topik) dapat dinilai secara [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.5 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Koefisien korelasi intrakelas: definisi + contoh<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Tutorial ini memberikan penjelasan tentang koefisien korelasi intrakelas, beserta definisi dan contohnya.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/koefisien-korelasi-intrakelas\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Koefisien korelasi intrakelas: definisi + contoh\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Tutorial ini memberikan penjelasan tentang koefisien korelasi intrakelas, beserta definisi dan contohnya.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/statorials.org\/id\/koefisien-korelasi-intrakelas\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Statorials\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-07-25T23:47:12+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/statorials.org\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/icc1.png\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Benjamin anderson\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Benjamin anderson\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/koefisien-korelasi-intrakelas\/\",\"url\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/koefisien-korelasi-intrakelas\/\",\"name\":\"Koefisien korelasi intrakelas: definisi + contoh\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/#website\"},\"datePublished\":\"2023-07-25T23:47:12+00:00\",\"dateModified\":\"2023-07-25T23:47:12+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/3d17a1160dd2d052b7c78e502cb9ec81\"},\"description\":\"Tutorial ini memberikan penjelasan tentang koefisien korelasi intrakelas, beserta definisi dan contohnya.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/koefisien-korelasi-intrakelas\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/statorials.org\/id\/koefisien-korelasi-intrakelas\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/koefisien-korelasi-intrakelas\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Koefisien korelasi intrakelas: definisi + contoh\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/\",\"name\":\"Statorials\",\"description\":\"Panduan anda untuk kompetensi statistik!\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/3d17a1160dd2d052b7c78e502cb9ec81\",\"name\":\"Benjamin anderson\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"http:\/\/statorials.org\/id\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Dr.-Benjamin-Anderson-96x96.jpg\",\"contentUrl\":\"http:\/\/statorials.org\/id\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Dr.-Benjamin-Anderson-96x96.jpg\",\"caption\":\"Benjamin anderson\"},\"description\":\"Halo, saya Benjamin, pensiunan profesor statistika yang menjadi guru Statorial yang berdedikasi. Dengan pengalaman dan keahlian yang luas di bidang statistika, saya ingin berbagi ilmu untuk memberdayakan mahasiswa melalui Statorials. Baca selengkapnya\",\"sameAs\":[\"http:\/\/statorials.org\/id\"]}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Koefisien korelasi intrakelas: definisi + contoh","description":"Tutorial ini memberikan penjelasan tentang koefisien korelasi intrakelas, beserta definisi dan contohnya.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/statorials.org\/id\/koefisien-korelasi-intrakelas\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Koefisien korelasi intrakelas: definisi + contoh","og_description":"Tutorial ini memberikan penjelasan tentang koefisien korelasi intrakelas, beserta definisi dan contohnya.","og_url":"https:\/\/statorials.org\/id\/koefisien-korelasi-intrakelas\/","og_site_name":"Statorials","article_published_time":"2023-07-25T23:47:12+00:00","og_image":[{"url":"https:\/\/statorials.org\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/icc1.png"}],"author":"Benjamin anderson","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Benjamin anderson","Estimasi waktu membaca":"3 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/koefisien-korelasi-intrakelas\/","url":"https:\/\/statorials.org\/id\/koefisien-korelasi-intrakelas\/","name":"Koefisien korelasi intrakelas: definisi + contoh","isPartOf":{"@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/#website"},"datePublished":"2023-07-25T23:47:12+00:00","dateModified":"2023-07-25T23:47:12+00:00","author":{"@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/3d17a1160dd2d052b7c78e502cb9ec81"},"description":"Tutorial ini memberikan penjelasan tentang koefisien korelasi intrakelas, beserta definisi dan contohnya.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/koefisien-korelasi-intrakelas\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/statorials.org\/id\/koefisien-korelasi-intrakelas\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/koefisien-korelasi-intrakelas\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/statorials.org\/id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Koefisien korelasi intrakelas: definisi + contoh"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/#website","url":"https:\/\/statorials.org\/id\/","name":"Statorials","description":"Panduan anda untuk kompetensi statistik!","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/statorials.org\/id\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/3d17a1160dd2d052b7c78e502cb9ec81","name":"Benjamin anderson","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"http:\/\/statorials.org\/id\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Dr.-Benjamin-Anderson-96x96.jpg","contentUrl":"http:\/\/statorials.org\/id\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Dr.-Benjamin-Anderson-96x96.jpg","caption":"Benjamin anderson"},"description":"Halo, saya Benjamin, pensiunan profesor statistika yang menjadi guru Statorial yang berdedikasi. Dengan pengalaman dan keahlian yang luas di bidang statistika, saya ingin berbagi ilmu untuk memberdayakan mahasiswa melalui Statorials. Baca selengkapnya","sameAs":["http:\/\/statorials.org\/id"]}]}},"yoast_meta":{"yoast_wpseo_title":"","yoast_wpseo_metadesc":"","yoast_wpseo_canonical":""},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1536"}],"collection":[{"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1536"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1536\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1536"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1536"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1536"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}