{"id":2164,"date":"2023-07-23T10:35:53","date_gmt":"2023-07-23T10:35:53","guid":{"rendered":"https:\/\/statorials.org\/id\/skor-f1-vs-presisi\/"},"modified":"2023-07-23T10:35:53","modified_gmt":"2023-07-23T10:35:53","slug":"skor-f1-vs-presisi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/statorials.org\/id\/skor-f1-vs-presisi\/","title":{"rendered":"Skor f1 vs akurasi: mana yang harus anda gunakan?"},"content":{"rendered":"<p><\/p>\n<hr>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Saat menggunakan <a href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/regresi-vs.-klasifikasi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">model klasifikasi<\/a> dalam pembelajaran mesin, dua metrik yang sering kita gunakan untuk mengevaluasi kualitas model adalah <strong>skor F1<\/strong> dan <strong>akurasi<\/strong> .<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Untuk kedua metrik tersebut, semakin tinggi nilainya, semakin mampu suatu model mengklasifikasikan observasi ke dalam kelas-kelas.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Namun, setiap metrik dihitung menggunakan rumus yang berbeda dan terdapat kelebihan dan kekurangan dalam menggunakannya.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Contoh berikut menunjukkan cara menghitung setiap metrik dalam praktiknya.<\/span><\/p>\n<h3> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Contoh: Perhitungan skor dan akurasi F1<\/strong><\/span><\/h3>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Misalkan kita menggunakan model regresi logistik untuk memprediksi apakah 400 pemain bola basket perguruan tinggi yang berbeda akan direkrut ke NBA atau tidak.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Matriks konfusi berikut merangkum prediksi yang dibuat oleh model:<\/span> <\/p>\n<p><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\" wp-image-20021 aligncenter\" src=\"https:\/\/statorials.org\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/\u1405-\u1405-\u1405.png\" alt=\"\" width=\"449\" height=\"148\" srcset=\"\" sizes=\"\"><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Berikut cara menghitung berbagai metrik untuk matriks konfusi:<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Akurasi:<\/strong> prediksi positif yang benar relatif terhadap total prediksi positif<\/span><\/p>\n<ul>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">Akurasi = Benar Positif \/ (Positif Benar + Positif Palsu)<\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">Akurasi = 120 \/ (120 + 70)<\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">Akurasi = <strong>0,63<\/strong><\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Pengingat:<\/strong> Perbaiki prediksi positif terhadap total positif aktual<\/span><\/p>\n<ul>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">Penarikan kembali = Benar Positif \/ (Positif Benar + Negatif Palsu)<\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">Penarikan kembali = 120 \/ (120 + 40)<\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">Ingat = <strong>0,75<\/strong><\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Akurasi:<\/strong> persentase seluruh observasi yang diklasifikasikan dengan benar<\/span><\/p>\n<ul>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">Akurasi = (Benar positif + Benar negatif) \/ (Total ukuran sampel)<\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">Akurasi = (120 + 170) \/ (400)<\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">Akurasi = <strong>0,725<\/strong><\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Skor F1:<\/strong> rata-rata harmonik antara presisi dan perolehan<\/span><\/p>\n<ul>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">Skor F1 = 2 * (Presisi * Recall) \/ (Presisi + Recall)<\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">Skor F1 = 2 * (0,63 * 0,75) \/ (0,63 + 0,75)<\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">Skor F1 = <strong>0,685<\/strong><\/span><\/li>\n<\/ul>\n<h3> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Kapan menggunakan skor F1 versus akurasi<\/strong><\/span><\/h3>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Ada pro dan kontra dalam penggunaan skor dan akurasi F1.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Akurasi<\/strong> :<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Kelebihan<\/strong> : Mudah diinterpretasikan. Jika kita mengatakan bahwa suatu model memiliki akurasi 90%, kita tahu bahwa model tersebut telah mengklasifikasikan 90% observasi dengan benar.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Kekurangan<\/strong> : Tidak memperhitungkan bagaimana data didistribusikan. Misalnya, asumsikan bahwa 90% dari seluruh pemain tidak direkrut ke dalam NBA. Jika kita memiliki model yang hanya memperkirakan bahwa setiap pemain tidak akan direkrut, model tersebut akan memprediksi dengan tepat hasil untuk 90% pemain. Nilai tersebut terkesan tinggi, namun model tersebut sebenarnya tidak mampu memprediksi dengan tepat pemain mana yang akan direkrut.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Hasil F1<\/strong> :<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Pro<\/strong> : Pertimbangkan bagaimana data didistribusikan. Misalnya, jika data sangat tidak seimbang (misalnya 90% dari seluruh pemain belum direkrut dan 10% belum direkrut), maka skor F1 akan memberikan penilaian yang lebih baik terhadap performa model.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Kekurangan<\/strong> : Lebih sulit untuk ditafsirkan. Skor F1 merupakan perpaduan antara presisi dan perolehan model, sehingga sedikit lebih sulit untuk ditafsirkan.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Umumnya:<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Kita sering menggunakan <strong>akurasi<\/strong> ketika kelas seimbang dan tidak ada kerugian besar dalam memprediksi negatif palsu.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Kami sering menggunakan <strong>skor F1<\/strong> ketika kelas tidak seimbang dan terdapat kelemahan serius dalam memprediksi negatif palsu.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Misalnya, jika kita menggunakan model regresi logistik untuk memprediksi apakah seseorang mengidap kanker atau tidak, hasil negatif palsu sangatlah buruk (misalnya memprediksi bahwa seseorang tidak mengidap kanker padahal mereka benar-benar mengidap kanker a) sehingga skor F1 akan menghukum model yang mengidap kanker. terlalu banyak negatif palsu. lebih dari presisi.<\/span><\/p>\n<h3> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Sumber daya tambahan<\/strong><\/span><\/h3>\n<p> <a href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/regresi-vs.-klasifikasi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Regresi vs. klasifikasi: apa bedanya?<\/a><br \/> <a href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/regresi-logistik-1\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pengantar Regresi Logistik<\/a><br \/> Bagaimana melakukan regresi logistik di R<br \/> <a href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/python-regresi-logistik\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Cara Melakukan Regresi Logistik dengan Python<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saat menggunakan model klasifikasi dalam pembelajaran mesin, dua metrik yang sering kita gunakan untuk mengevaluasi kualitas model adalah skor F1 dan akurasi . Untuk kedua metrik tersebut, semakin tinggi nilainya, semakin mampu suatu model mengklasifikasikan observasi ke dalam kelas-kelas. Namun, setiap metrik dihitung menggunakan rumus yang berbeda dan terdapat kelebihan dan kekurangan dalam menggunakannya. Contoh [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.5 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Skor F1 vs Akurasi: Mana yang Harus Anda Gunakan? - Statorial<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Tutorial ini menjelaskan perbedaan antara skor F1 dan akurasi dalam pembelajaran mesin, beserta sebuah contoh.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/skor-f1-vs-presisi\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Skor F1 vs Akurasi: Mana yang Harus Anda Gunakan? - Statorial\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Tutorial ini menjelaskan perbedaan antara skor F1 dan akurasi dalam pembelajaran mesin, beserta sebuah contoh.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/statorials.org\/id\/skor-f1-vs-presisi\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Statorials\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-07-23T10:35:53+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Benjamin anderson\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Benjamin anderson\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"2 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/skor-f1-vs-presisi\/\",\"url\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/skor-f1-vs-presisi\/\",\"name\":\"Skor F1 vs Akurasi: Mana yang Harus Anda Gunakan? - Statorial\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/#website\"},\"datePublished\":\"2023-07-23T10:35:53+00:00\",\"dateModified\":\"2023-07-23T10:35:53+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/3d17a1160dd2d052b7c78e502cb9ec81\"},\"description\":\"Tutorial ini menjelaskan perbedaan antara skor F1 dan akurasi dalam pembelajaran mesin, beserta sebuah contoh.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/skor-f1-vs-presisi\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/statorials.org\/id\/skor-f1-vs-presisi\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/skor-f1-vs-presisi\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Skor f1 vs akurasi: mana yang harus anda gunakan?\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/\",\"name\":\"Statorials\",\"description\":\"Panduan anda untuk kompetensi statistik!\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/3d17a1160dd2d052b7c78e502cb9ec81\",\"name\":\"Benjamin anderson\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"http:\/\/statorials.org\/id\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Dr.-Benjamin-Anderson-96x96.jpg\",\"contentUrl\":\"http:\/\/statorials.org\/id\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Dr.-Benjamin-Anderson-96x96.jpg\",\"caption\":\"Benjamin anderson\"},\"description\":\"Halo, saya Benjamin, pensiunan profesor statistika yang menjadi guru Statorial yang berdedikasi. Dengan pengalaman dan keahlian yang luas di bidang statistika, saya ingin berbagi ilmu untuk memberdayakan mahasiswa melalui Statorials. Baca selengkapnya\",\"sameAs\":[\"http:\/\/statorials.org\/id\"]}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Skor F1 vs Akurasi: Mana yang Harus Anda Gunakan? - Statorial","description":"Tutorial ini menjelaskan perbedaan antara skor F1 dan akurasi dalam pembelajaran mesin, beserta sebuah contoh.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/statorials.org\/id\/skor-f1-vs-presisi\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Skor F1 vs Akurasi: Mana yang Harus Anda Gunakan? - Statorial","og_description":"Tutorial ini menjelaskan perbedaan antara skor F1 dan akurasi dalam pembelajaran mesin, beserta sebuah contoh.","og_url":"https:\/\/statorials.org\/id\/skor-f1-vs-presisi\/","og_site_name":"Statorials","article_published_time":"2023-07-23T10:35:53+00:00","author":"Benjamin anderson","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Benjamin anderson","Estimasi waktu membaca":"2 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/skor-f1-vs-presisi\/","url":"https:\/\/statorials.org\/id\/skor-f1-vs-presisi\/","name":"Skor F1 vs Akurasi: Mana yang Harus Anda Gunakan? - Statorial","isPartOf":{"@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/#website"},"datePublished":"2023-07-23T10:35:53+00:00","dateModified":"2023-07-23T10:35:53+00:00","author":{"@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/3d17a1160dd2d052b7c78e502cb9ec81"},"description":"Tutorial ini menjelaskan perbedaan antara skor F1 dan akurasi dalam pembelajaran mesin, beserta sebuah contoh.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/skor-f1-vs-presisi\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/statorials.org\/id\/skor-f1-vs-presisi\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/skor-f1-vs-presisi\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/statorials.org\/id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Skor f1 vs akurasi: mana yang harus anda gunakan?"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/#website","url":"https:\/\/statorials.org\/id\/","name":"Statorials","description":"Panduan anda untuk kompetensi statistik!","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/statorials.org\/id\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/3d17a1160dd2d052b7c78e502cb9ec81","name":"Benjamin anderson","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"http:\/\/statorials.org\/id\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Dr.-Benjamin-Anderson-96x96.jpg","contentUrl":"http:\/\/statorials.org\/id\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Dr.-Benjamin-Anderson-96x96.jpg","caption":"Benjamin anderson"},"description":"Halo, saya Benjamin, pensiunan profesor statistika yang menjadi guru Statorial yang berdedikasi. Dengan pengalaman dan keahlian yang luas di bidang statistika, saya ingin berbagi ilmu untuk memberdayakan mahasiswa melalui Statorials. Baca selengkapnya","sameAs":["http:\/\/statorials.org\/id"]}]}},"yoast_meta":{"yoast_wpseo_title":"","yoast_wpseo_metadesc":"","yoast_wpseo_canonical":""},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2164"}],"collection":[{"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2164"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2164\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2164"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2164"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2164"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}