{"id":2494,"date":"2023-07-22T01:04:49","date_gmt":"2023-07-22T01:04:49","guid":{"rendered":"https:\/\/statorials.org\/id\/perbandingan-berpasangan-di-sungai\/"},"modified":"2023-07-22T01:04:49","modified_gmt":"2023-07-22T01:04:49","slug":"perbandingan-berpasangan-di-sungai","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/statorials.org\/id\/perbandingan-berpasangan-di-sungai\/","title":{"rendered":"Bagaimana melakukan perbandingan berpasangan post-hoc di r"},"content":{"rendered":"<p><\/p>\n<hr>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><a href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/anova-satu-arah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ANOVA satu arah<\/a> digunakan untuk menentukan apakah terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik antara rata-rata tiga atau lebih kelompok independen.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">ANOVA satu arah menggunakan hipotesis nol dan hipotesis alternatif berikut:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li> <span style=\"color: #000000;\"><strong>H <sub>0<\/sub><\/strong> : Semua mean grup adalah sama.<\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\"><strong>H <sub>A<\/sub><\/strong> : Tidak semua rata-rata kelompok sama.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Jika <a href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/anova-nilai-f-nilai-p\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">nilai p<\/a> keseluruhan ANOVA berada di bawah tingkat signifikansi tertentu (misalnya \u03b1 = 0,05), maka kami menolak hipotesis nol dan menyimpulkan bahwa semua mean kelompok tidak sama.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Untuk mengetahui mean grup mana yang berbeda, selanjutnya kita dapat melakukan <strong>perbandingan berpasangan post-hoc<\/strong> .<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Contoh berikut menunjukkan cara melakukan perbandingan berpasangan post-hoc berikut di R:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">Metode Tukey<\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">Metode Scheffe<\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">Metode Bonferroni<\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">Metode Holm<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<h3> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Contoh: ANOVA satu arah di R<\/strong><\/span><\/h3>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Misalkan seorang guru ingin mengetahui apakah tiga teknik belajar yang berbeda menghasilkan nilai ujian yang berbeda di antara siswa. Untuk mengujinya, dia <a href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/pemilihan-acak-vs.-penugasan-acak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">secara acak menugaskan<\/a> 10 siswa untuk menggunakan setiap teknik belajar dan mencatat hasil ujian mereka.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Kita dapat menggunakan kode berikut di R untuk melakukan ANOVA satu arah untuk menguji perbedaan rata-rata nilai ujian antara ketiga kelompok:<\/span><\/p>\n<pre style=\"background-color: #ececec; font-size: 15px;\"> <strong><span style=\"color: #008080;\">#create data frame<\/span>\ndf &lt;- data.frame(technique = rep(c(\" <span style=\"color: #ff0000;\">tech1<\/span> \", \" <span style=\"color: #ff0000;\">tech2<\/span> \", \" <span style=\"color: #ff0000;\">tech3<\/span> \"), each= <span style=\"color: #008000;\">10<\/span> ),\n                 score = c(76, 77, 77, 81, 82, 82, 83, 84, 85, 89,\n                           81, 82, 83, 83, 83, 84, 87, 90, 92, 93,\n                           77, 78, 79, 88, 89, 90, 91, 95, 95, 98))\n\n<span style=\"color: #008080;\">#perform one-way ANOVA\n<\/span>model &lt;- aov(score ~ technique, data = df)\n\n<span style=\"color: #008080;\">#view output of ANOVA\n<\/span>summary(model)\n\n            Df Sum Sq Mean Sq F value Pr(&gt;F)  \ntechnical 2 211.5 105.73 3.415 0.0476 *\nResiduals 27 836.0 30.96                 \n---\nSignificant. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1<\/strong><\/pre>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Nilai p keseluruhan ANOVA (0,0476) kurang dari \u03b1 = 0,05, jadi kita akan menolak hipotesis nol yang menyatakan rata-rata nilai ujian untuk setiap teknik belajar adalah sama.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Kita dapat melakukan perbandingan berpasangan post-hoc untuk menentukan kelompok mana yang mempunyai mean berbeda.<\/span><\/p>\n<h3> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Metode Tukey<\/strong><\/span><\/h3>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Cara terbaik adalah menggunakan metode post hoc Tukey ketika ukuran sampel setiap kelompok sama.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Kita dapat menggunakan fungsi <strong>TukeyHSD()<\/strong> bawaan untuk menjalankan metode post-hoc Tukey di R:<\/span><\/p>\n<pre style=\"background-color: #ececec; font-size: 15px;\"> <strong><span style=\"color: #008080;\">#perform the Tukey post-hoc method<\/span>\nTukeyHSD(model, conf. <span style=\"color: #3366ff;\">level<\/span> = <span style=\"color: #008000;\">.95<\/span> )\n\n  Tukey multiple comparisons of means\n    95% family-wise confidence level\n\nFit: aov(formula = score ~ technique, data = df)\n\n$technical\n            diff lwr upr p adj\ntech2-tech1 4.2 -1.9700112 10.370011 0.2281369\ntech3-tech1 6.4 0.2299888 12.570011 0.0409017\ntech3-tech2 2.2 -3.9700112 8.370011 0.6547756<\/strong><\/pre>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Dari hasil tersebut terlihat bahwa satu-satunya nilai p (\u201c <strong>p adj<\/strong> \u201d) yang kurang dari 0,05 merupakan selisih antara teknik dan teknik 3.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Oleh karena itu, kami dapat menyimpulkan bahwa hanya terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik dalam nilai ujian rata-rata antara siswa yang menggunakan Teknik 1 dan Teknik 3.<\/span><\/p>\n<h3> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Metode Scheffe<\/strong><\/span><\/h3>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Metode Scheffe adalah metode perbandingan berpasangan post-hoc yang paling konservatif dan menghasilkan interval kepercayaan terluas ketika membandingkan rata-rata kelompok.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Kita dapat menggunakan fungsi <strong>ScheffeTest()<\/strong> dari paket <a href=\"https:\/\/cran.r-project.org\/web\/packages\/DescTools\/DescTools.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">DescTools<\/a> untuk menjalankan metode post-hoc Scheffe di R:<\/span><\/p>\n<pre style=\"background-color: #ececec; font-size: 15px;\"> <strong><span style=\"color: #008080;\"><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"color: #008000;\">library<\/span> (DescTools)<\/span>\n\n#perform the Scheffe post-hoc method<\/span>\nScheffeTest(model)\n\n  Posthoc multiple comparisons of means: Scheffe Test \n    95% family-wise confidence level\n\n$technical\n            diff lwr.ci upr.ci pval    \ntech2-tech1 4.2 -2.24527202 10.645272 0.2582    \ntech3-tech1 6.4 -0.04527202 12.845272 0.0519 .  \ntech3-tech2 2.2 -4.24527202 8.645272 0.6803    \n\n---\nSignificant. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1'''156<\/strong><\/pre>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Dari hasil tersebut kita dapat melihat bahwa tidak ada nilai p yang lebih rendah dari 0,05, jadi kita dapat menyimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistik dalam nilai ujian rata-rata antar kelompok.<\/span><\/p>\n<h3> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Metode Bonferroni<\/strong><\/span><\/h3>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Cara terbaik adalah menggunakan metode Bonferroni ketika Anda ingin melakukan serangkaian perbandingan berpasangan yang direncanakan.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Kita dapat menggunakan sintaks berikut di R untuk melakukan metode post hoc Bonferroni:<\/span><\/p>\n<pre style=\"background-color: #ececec; font-size: 15px;\"> <strong><span style=\"color: #008080;\">#perform the Bonferroni post-hoc method\n<span style=\"color: #000000;\">pairwise. <span style=\"color: #3366ff;\">t<\/span> . <span style=\"color: #3366ff;\">test<\/span> (df$score, df$technique, p. <span style=\"color: #3366ff;\">adj<\/span> = ' <span style=\"color: #ff0000;\">bonferroni<\/span> ')<\/span>\n<\/span>\n\tPairwise comparisons using t tests with pooled SD \n\ndata: df$score and df$technique \n\n      tech1 tech2\ntech2 0.309 -    \ntech3 0.048 1.000\n\nP value adjustment method: bonferroni<\/strong><\/pre>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Dari hasilnya terlihat bahwa satu-satunya p-value yang kurang dari 0,05 adalah selisih antara teknik dan teknik 3.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Oleh karena itu, kami dapat menyimpulkan bahwa hanya terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik dalam nilai ujian rata-rata antara siswa yang menggunakan Teknik 1 dan Teknik 3.<\/span><\/p>\n<h3> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Metode Holm<\/strong><\/span><\/h3>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Metode Holm juga digunakan ketika Anda ingin melakukan serangkaian perbandingan berpasangan yang direncanakan sebelumnya dan metode ini cenderung memiliki kekuatan yang lebih tinggi daripada metode Bonferroni, sehingga sering kali lebih disukai.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Kita dapat menggunakan sintaks berikut di R untuk menjalankan metode Holm post-hoc:<\/span><\/p>\n<pre style=\"background-color: #ececec; font-size: 15px;\"> <strong><span style=\"color: #008080;\">#perform the Holm post-hoc method\n<span style=\"color: #000000;\">pairwise. <span style=\"color: #3366ff;\">t<\/span> . <span style=\"color: #3366ff;\">test<\/span> (df$score, df$technique, p. <span style=\"color: #3366ff;\">adj<\/span> = ' <span style=\"color: #ff0000;\">holm<\/span> ')<\/span>\n<\/span>\n\tPairwise comparisons using t tests with pooled SD \n\ndata: df$score and df$technique \n\n      tech1 tech2\ntech2 0.206 -    \ntech3 0.048 0.384\n\nP value adjustment method: holm<\/strong><\/pre>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Dari hasilnya terlihat bahwa satu-satunya p-value yang kurang dari 0,05 adalah selisih antara teknik dan teknik 3.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Jadi, sekali lagi, kita dapat menyimpulkan bahwa hanya terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik pada nilai ujian rata-rata antara siswa yang menggunakan Teknik 1 dan Teknik 3.<\/span><\/p>\n<h3> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Sumber daya tambahan<\/strong><\/span><\/h3>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Tutorial berikut memberikan informasi tambahan tentang ANOVA dan pengujian post-hoc:<\/span><\/p>\n<p> <a href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/anova-nilai-f-nilai-p\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bagaimana menginterpretasikan nilai F dan nilai P dalam ANOVA<\/a><br \/> <a href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/cara-melaporkan-hasil-anova\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Panduan Lengkap: Cara Melaporkan Hasil ANOVA<\/a><br \/> <a href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/tukey-vs-bonferroni-vs-scheffe\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Tukey vs. Bonferroni vs. Scheffe: Tes Mana yang Harus Anda Gunakan?<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ANOVA satu arah digunakan untuk menentukan apakah terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik antara rata-rata tiga atau lebih kelompok independen. ANOVA satu arah menggunakan hipotesis nol dan hipotesis alternatif berikut: H 0 : Semua mean grup adalah sama. H A : Tidak semua rata-rata kelompok sama. Jika nilai p keseluruhan ANOVA berada di bawah tingkat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.5 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Cara melakukan perbandingan berpasangan post-hoc di R - Statorials<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Tutorial ini menjelaskan cara melakukan perbandingan berpasangan post-hoc di R, termasuk contoh lengkapnya.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/perbandingan-berpasangan-di-sungai\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Cara melakukan perbandingan berpasangan post-hoc di R - Statorials\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Tutorial ini menjelaskan cara melakukan perbandingan berpasangan post-hoc di R, termasuk contoh lengkapnya.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/statorials.org\/id\/perbandingan-berpasangan-di-sungai\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Statorials\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-07-22T01:04:49+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Benjamin anderson\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Benjamin anderson\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/perbandingan-berpasangan-di-sungai\/\",\"url\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/perbandingan-berpasangan-di-sungai\/\",\"name\":\"Cara melakukan perbandingan berpasangan post-hoc di R - Statorials\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/#website\"},\"datePublished\":\"2023-07-22T01:04:49+00:00\",\"dateModified\":\"2023-07-22T01:04:49+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/3d17a1160dd2d052b7c78e502cb9ec81\"},\"description\":\"Tutorial ini menjelaskan cara melakukan perbandingan berpasangan post-hoc di R, termasuk contoh lengkapnya.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/perbandingan-berpasangan-di-sungai\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/statorials.org\/id\/perbandingan-berpasangan-di-sungai\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/perbandingan-berpasangan-di-sungai\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Bagaimana melakukan perbandingan berpasangan post-hoc di r\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/\",\"name\":\"Statorials\",\"description\":\"Panduan anda untuk kompetensi statistik!\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/3d17a1160dd2d052b7c78e502cb9ec81\",\"name\":\"Benjamin anderson\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"http:\/\/statorials.org\/id\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Dr.-Benjamin-Anderson-96x96.jpg\",\"contentUrl\":\"http:\/\/statorials.org\/id\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Dr.-Benjamin-Anderson-96x96.jpg\",\"caption\":\"Benjamin anderson\"},\"description\":\"Halo, saya Benjamin, pensiunan profesor statistika yang menjadi guru Statorial yang berdedikasi. Dengan pengalaman dan keahlian yang luas di bidang statistika, saya ingin berbagi ilmu untuk memberdayakan mahasiswa melalui Statorials. Baca selengkapnya\",\"sameAs\":[\"http:\/\/statorials.org\/id\"]}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Cara melakukan perbandingan berpasangan post-hoc di R - Statorials","description":"Tutorial ini menjelaskan cara melakukan perbandingan berpasangan post-hoc di R, termasuk contoh lengkapnya.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/statorials.org\/id\/perbandingan-berpasangan-di-sungai\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Cara melakukan perbandingan berpasangan post-hoc di R - Statorials","og_description":"Tutorial ini menjelaskan cara melakukan perbandingan berpasangan post-hoc di R, termasuk contoh lengkapnya.","og_url":"https:\/\/statorials.org\/id\/perbandingan-berpasangan-di-sungai\/","og_site_name":"Statorials","article_published_time":"2023-07-22T01:04:49+00:00","author":"Benjamin anderson","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Benjamin anderson","Estimasi waktu membaca":"4 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/perbandingan-berpasangan-di-sungai\/","url":"https:\/\/statorials.org\/id\/perbandingan-berpasangan-di-sungai\/","name":"Cara melakukan perbandingan berpasangan post-hoc di R - Statorials","isPartOf":{"@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/#website"},"datePublished":"2023-07-22T01:04:49+00:00","dateModified":"2023-07-22T01:04:49+00:00","author":{"@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/3d17a1160dd2d052b7c78e502cb9ec81"},"description":"Tutorial ini menjelaskan cara melakukan perbandingan berpasangan post-hoc di R, termasuk contoh lengkapnya.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/perbandingan-berpasangan-di-sungai\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/statorials.org\/id\/perbandingan-berpasangan-di-sungai\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/perbandingan-berpasangan-di-sungai\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/statorials.org\/id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Bagaimana melakukan perbandingan berpasangan post-hoc di r"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/#website","url":"https:\/\/statorials.org\/id\/","name":"Statorials","description":"Panduan anda untuk kompetensi statistik!","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/statorials.org\/id\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/3d17a1160dd2d052b7c78e502cb9ec81","name":"Benjamin anderson","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"http:\/\/statorials.org\/id\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Dr.-Benjamin-Anderson-96x96.jpg","contentUrl":"http:\/\/statorials.org\/id\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Dr.-Benjamin-Anderson-96x96.jpg","caption":"Benjamin anderson"},"description":"Halo, saya Benjamin, pensiunan profesor statistika yang menjadi guru Statorial yang berdedikasi. Dengan pengalaman dan keahlian yang luas di bidang statistika, saya ingin berbagi ilmu untuk memberdayakan mahasiswa melalui Statorials. Baca selengkapnya","sameAs":["http:\/\/statorials.org\/id"]}]}},"yoast_meta":{"yoast_wpseo_title":"","yoast_wpseo_metadesc":"","yoast_wpseo_canonical":""},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2494"}],"collection":[{"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2494"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2494\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2494"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2494"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2494"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}