{"id":2583,"date":"2023-07-21T15:30:59","date_gmt":"2023-07-21T15:30:59","guid":{"rendered":"https:\/\/statorials.org\/id\/hipotesis-uji-t-berpasangan\/"},"modified":"2023-07-21T15:30:59","modified_gmt":"2023-07-21T15:30:59","slug":"hipotesis-uji-t-berpasangan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/statorials.org\/id\/hipotesis-uji-t-berpasangan\/","title":{"rendered":"Ketiga hipotesis dirumuskan dalam uji t berpasangan"},"content":{"rendered":"<p><\/p>\n<hr>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><a href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/uji-sampel-berpasangan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Uji-t sampel berpasangan<\/a> digunakan untuk membandingkan rata-rata dua sampel ketika setiap observasi pada satu sampel dapat dikaitkan dengan observasi pada sampel lainnya.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Jenis pengujian ini membuat asumsi berikut tentang data:<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>1. Independensi:<\/strong> setiap observasi harus independen terhadap observasi lainnya.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>2. Normalitas:<\/strong> Perbedaan antar pasangan harus terdistribusi secara normal.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>3. Tidak ada perbedaan yang ekstrim:<\/strong> Tidak boleh ada perbedaan yang ekstrim.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Jika satu atau lebih asumsi ini tidak terpenuhi, hasil uji-t sampel berpasangan mungkin tidak dapat diandalkan atau menyesatkan.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Pada tutorial ini kami memberikan penjelasan masing-masing asumsi, cara menentukan apakah asumsi tersebut terpenuhi, dan apa yang harus dilakukan jika asumsi tersebut dilanggar.<\/span><\/p>\n<h2> <strong>Hipotesis 1: Kemandirian<\/strong><\/h2>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Uji-t sampel berpasangan mengasumsikan bahwa setiap <a href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/pengamatan-dalam-statistik\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">observasi<\/a> tidak bergantung pada semua observasi lainnya.<\/span><\/p>\n<h3> <strong>Bagaimana memverifikasi hipotesis ini<\/strong><\/h3>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Cara paling sederhana untuk memverifikasi asumsi ini adalah dengan memverifikasi bahwa setiap observasi dikumpulkan dengan menggunakan <a href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/metode-pengambilan-sampel\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">metode random sampling<\/a> .<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Jika metode pengambilan sampel acak digunakan (seperti pengambilan sampel acak sederhana), maka kita dapat berasumsi bahwa setiap observasi tidak bergantung pada semua observasi lainnya.<\/span><\/p>\n<h3> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Apa yang harus dilakukan jika asumsi ini tidak dipatuhi<\/strong><\/span><\/h3>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Jika asumsi ini tidak terpenuhi, maka hasil uji t sampel berpasangan tidak valid sama sekali.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Dalam skenario ini, yang terbaik adalah mengumpulkan observasi baru menggunakan metode pengambilan sampel acak untuk memastikan bahwa setiap observasi bersifat independen.<\/span><\/p>\n<h2> <strong>Hipotesis 2: normalitas<\/strong><\/h2>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Uji-t sampel berpasangan mengasumsikan bahwa perbedaan antar pasangan harus berdistribusi normal.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Ini adalah asumsi yang penting karena jika perbedaan antar pasangan tidak terdistribusi secara normal, maka tidak valid menggunakan nilai p dari pengujian untuk menarik kesimpulan.<\/span><\/p>\n<h3> <strong>Bagaimana memverifikasi hipotesis ini<\/strong><\/h3>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Cara termudah untuk menguji hipotesis ini adalah dengan membuat histogram dari perbedaan berpasangan dan memeriksa secara visual apakah histogram tersebut berbentuk lonceng atau tidak.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Misalnya, jika histogramnya terlihat seperti ini, asumsi normalitasnya terpenuhi:<\/span> <\/p>\n<p><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\" wp-image-19329 aligncenter\" src=\"https:\/\/statorials.org\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/hist_shape2.png\" alt=\"\" width=\"452\" height=\"238\" srcset=\"\" sizes=\"\"><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Namun jika histogramnya terlihat seperti ini, asumsi normalitasnya tidak terpenuhi:<\/span> <\/p>\n<p><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\" wp-image-19333 aligncenter\" src=\"https:\/\/statorials.org\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/hist_shape6.png\" alt=\"\" width=\"454\" height=\"244\" srcset=\"\" sizes=\"\"><\/p>\n<h3> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Apa yang harus dilakukan jika asumsi ini tidak dipatuhi<\/strong><\/span><\/h3>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Jika asumsi ini dilanggar, kita dapat melakukan <a href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/tes-peringkat-tanda-wilcoxon\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">uji peringkat bertanda Wilcoxon<\/a> , yang dianggap setara nonparametrik dari uji-t sampel berpasangan dan tidak mengasumsikan bahwa perbedaan berpasangan terdistribusi secara normal.<\/span><\/p>\n<h2> <strong>Hipotesis 3: tidak ada outlier yang ekstrim<\/strong><\/h2>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Uji-t sampel berpasangan mengasumsikan bahwa tidak ada outlier ekstrim dalam data.<\/span><\/p>\n<h3> <strong>Bagaimana memverifikasi hipotesis ini<\/strong><\/h3>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><span style=\"color: #000000;\">Cara termudah untuk menguji hipotesis ini adalah dengan membuat plot kotak dari perbedaan berpasangan dan memeriksa secara visual apakah ada outlier.<\/span><\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Misalnya, plot kotak perbedaan berpasangan terlihat seperti ini:<\/span> <\/p>\n<p><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\" wp-image-22866 aligncenter\" src=\"https:\/\/statorials.org\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/paireassomption1.jpg\" alt=\"\" width=\"431\" height=\"396\" srcset=\"\" sizes=\"\"><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Sebagian besar perbedaan berpasangan mendekati nol, namun ada satu perbedaan berpasangan yang sama dengan sekitar 19, yang jelas merupakan outlier.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Catatan<\/strong> : Lingkaran biasanya digunakan dalam plot kotak untuk menunjukkan outlier.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Namun, misalkan plot kotak perbedaan berpasangan terlihat seperti ini:<\/span> <\/p>\n<p><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\" wp-image-22867 aligncenter\" src=\"https:\/\/statorials.org\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/paireassomption2.jpg\" alt=\"\" width=\"411\" height=\"385\" srcset=\"\" sizes=\"\"><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Tidak ada outlier yang jelas pada diagram kotak ini, jadi kita asumsikan tidak ada outlier yang ekstrim pada data.<\/span><\/p>\n<h3> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Apa yang harus dilakukan jika asumsi ini tidak dipatuhi<\/strong><\/span><\/h3>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Jika asumsi ini dilanggar, hasil uji-t sampel berpasangan dapat dipengaruhi oleh outlier secara tidak normal.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Dalam skenario ini, Anda dapat menghapus outlier jika Anda yakin outlier tersebut mewakili titik data yang salah atau merupakan akibat dari kesalahan entri data.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Alternatifnya, Anda dapat menyimpan outlier dan mencatatnya saat melaporkan hasil uji-t sampel berpasangan.<\/span><\/p>\n<h3> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Sumber daya tambahan<\/strong><\/span><\/h3>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Tutorial berikut menjelaskan asumsi yang dibuat dalam uji statistik lainnya:<\/span><\/p>\n<p> <a href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/untuk-menguji-hipotesis\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Keempat hipotesis dirumuskan dalam uji t<\/a><br \/> Empat hipotesis uji chi-kuadrat<br \/> Empat hipotesis uji parametrik<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Uji-t sampel berpasangan digunakan untuk membandingkan rata-rata dua sampel ketika setiap observasi pada satu sampel dapat dikaitkan dengan observasi pada sampel lainnya. Jenis pengujian ini membuat asumsi berikut tentang data: 1. Independensi: setiap observasi harus independen terhadap observasi lainnya. 2. Normalitas: Perbedaan antar pasangan harus terdistribusi secara normal. 3. Tidak ada perbedaan yang ekstrim: Tidak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.5 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Ketiga hipotesis tersebut dirumuskan dalam uji t berpasangan \u2013 Statorials<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Tutorial ini menjelaskan ketiga hipotesis yang dibuat dengan uji t berpasangan, termasuk penjelasan lengkap dari masing-masing hipotesis.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/hipotesis-uji-t-berpasangan\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Ketiga hipotesis tersebut dirumuskan dalam uji t berpasangan \u2013 Statorials\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Tutorial ini menjelaskan ketiga hipotesis yang dibuat dengan uji t berpasangan, termasuk penjelasan lengkap dari masing-masing hipotesis.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/statorials.org\/id\/hipotesis-uji-t-berpasangan\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Statorials\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-07-21T15:30:59+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/statorials.org\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/hist_shape2.png\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Benjamin anderson\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Benjamin anderson\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/hipotesis-uji-t-berpasangan\/\",\"url\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/hipotesis-uji-t-berpasangan\/\",\"name\":\"Ketiga hipotesis tersebut dirumuskan dalam uji t berpasangan \u2013 Statorials\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/#website\"},\"datePublished\":\"2023-07-21T15:30:59+00:00\",\"dateModified\":\"2023-07-21T15:30:59+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/3d17a1160dd2d052b7c78e502cb9ec81\"},\"description\":\"Tutorial ini menjelaskan ketiga hipotesis yang dibuat dengan uji t berpasangan, termasuk penjelasan lengkap dari masing-masing hipotesis.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/hipotesis-uji-t-berpasangan\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/statorials.org\/id\/hipotesis-uji-t-berpasangan\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/hipotesis-uji-t-berpasangan\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Ketiga hipotesis dirumuskan dalam uji t berpasangan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/\",\"name\":\"Statorials\",\"description\":\"Panduan anda untuk kompetensi statistik!\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/3d17a1160dd2d052b7c78e502cb9ec81\",\"name\":\"Benjamin anderson\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"http:\/\/statorials.org\/id\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Dr.-Benjamin-Anderson-96x96.jpg\",\"contentUrl\":\"http:\/\/statorials.org\/id\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Dr.-Benjamin-Anderson-96x96.jpg\",\"caption\":\"Benjamin anderson\"},\"description\":\"Halo, saya Benjamin, pensiunan profesor statistika yang menjadi guru Statorial yang berdedikasi. Dengan pengalaman dan keahlian yang luas di bidang statistika, saya ingin berbagi ilmu untuk memberdayakan mahasiswa melalui Statorials. Baca selengkapnya\",\"sameAs\":[\"http:\/\/statorials.org\/id\"]}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Ketiga hipotesis tersebut dirumuskan dalam uji t berpasangan \u2013 Statorials","description":"Tutorial ini menjelaskan ketiga hipotesis yang dibuat dengan uji t berpasangan, termasuk penjelasan lengkap dari masing-masing hipotesis.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/statorials.org\/id\/hipotesis-uji-t-berpasangan\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Ketiga hipotesis tersebut dirumuskan dalam uji t berpasangan \u2013 Statorials","og_description":"Tutorial ini menjelaskan ketiga hipotesis yang dibuat dengan uji t berpasangan, termasuk penjelasan lengkap dari masing-masing hipotesis.","og_url":"https:\/\/statorials.org\/id\/hipotesis-uji-t-berpasangan\/","og_site_name":"Statorials","article_published_time":"2023-07-21T15:30:59+00:00","og_image":[{"url":"https:\/\/statorials.org\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/hist_shape2.png"}],"author":"Benjamin anderson","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Benjamin anderson","Estimasi waktu membaca":"3 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/hipotesis-uji-t-berpasangan\/","url":"https:\/\/statorials.org\/id\/hipotesis-uji-t-berpasangan\/","name":"Ketiga hipotesis tersebut dirumuskan dalam uji t berpasangan \u2013 Statorials","isPartOf":{"@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/#website"},"datePublished":"2023-07-21T15:30:59+00:00","dateModified":"2023-07-21T15:30:59+00:00","author":{"@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/3d17a1160dd2d052b7c78e502cb9ec81"},"description":"Tutorial ini menjelaskan ketiga hipotesis yang dibuat dengan uji t berpasangan, termasuk penjelasan lengkap dari masing-masing hipotesis.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/hipotesis-uji-t-berpasangan\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/statorials.org\/id\/hipotesis-uji-t-berpasangan\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/hipotesis-uji-t-berpasangan\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/statorials.org\/id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Ketiga hipotesis dirumuskan dalam uji t berpasangan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/#website","url":"https:\/\/statorials.org\/id\/","name":"Statorials","description":"Panduan anda untuk kompetensi statistik!","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/statorials.org\/id\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/3d17a1160dd2d052b7c78e502cb9ec81","name":"Benjamin anderson","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"http:\/\/statorials.org\/id\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Dr.-Benjamin-Anderson-96x96.jpg","contentUrl":"http:\/\/statorials.org\/id\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Dr.-Benjamin-Anderson-96x96.jpg","caption":"Benjamin anderson"},"description":"Halo, saya Benjamin, pensiunan profesor statistika yang menjadi guru Statorial yang berdedikasi. Dengan pengalaman dan keahlian yang luas di bidang statistika, saya ingin berbagi ilmu untuk memberdayakan mahasiswa melalui Statorials. Baca selengkapnya","sameAs":["http:\/\/statorials.org\/id"]}]}},"yoast_meta":{"yoast_wpseo_title":"","yoast_wpseo_metadesc":"","yoast_wpseo_canonical":""},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2583"}],"collection":[{"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2583"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2583\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2583"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2583"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2583"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}