{"id":3245,"date":"2023-07-18T12:02:07","date_gmt":"2023-07-18T12:02:07","guid":{"rendered":"https:\/\/statorials.org\/id\/kapan-harus-menolak-hipotesis-nol\/"},"modified":"2023-07-18T12:02:07","modified_gmt":"2023-07-18T12:02:07","slug":"kapan-harus-menolak-hipotesis-nol","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/statorials.org\/id\/kapan-harus-menolak-hipotesis-nol\/","title":{"rendered":"Kapan harus menolak hipotesis nol? (3 contoh)"},"content":{"rendered":"<p><\/p>\n<hr>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><a href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/pengujian-hipotesis-1\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Uji hipotesis<\/a> adalah uji statistik formal yang kita gunakan untuk menolak atau gagal menolak hipotesis statistik.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Kami selalu menggunakan langkah-langkah berikut untuk melakukan pengujian hipotesis:<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Langkah 1: Nyatakan hipotesis nol dan hipotesis alternatif.<\/strong><\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Hipotesis nol<\/strong> yang dilambangkan dengan <sub>H0<\/sub> adalah hipotesis yang menyatakan bahwa data sampel berasal dari kebetulan saja.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Hipotesis alternatif<\/strong> , dilambangkan <sub>HA<\/sub> , adalah hipotesis bahwa data sampel dipengaruhi oleh sebab yang tidak acak.<\/span><\/p>\n<p> <strong><span style=\"color: #000000;\">2. Tentukan tingkat signifikansi yang akan digunakan.<\/span><\/strong><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Tentukan tingkat signifikansinya. Pilihan umum adalah .01, .05, dan .1.<\/span><\/p>\n<p> <strong><span style=\"color: #000000;\">3. Hitung statistik uji dan nilai p.<\/span><\/strong><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Gunakan data sampel untuk menghitung statistik uji dan <a href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/p-menghargai-signifikansi-statistik\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">nilai p<\/a> yang sesuai.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>4. Menolak atau tidak menolak hipotesis nol.<\/strong><\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Jika nilai p berada di bawah tingkat signifikansi, maka hipotesis nol ditolak.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Jika nilai p tidak di bawah tingkat signifikansi, Anda gagal menolak hipotesis nol.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Anda dapat menggunakan baris bagus berikut untuk mengingat aturan ini:<\/span><\/p>\n<blockquote>\n<p> <strong><span style=\"color: #000000;\">\u201cJika p lemah, nolnya harus hilang.\u201d<\/span><\/strong><\/p>\n<\/blockquote>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Dengan kata lain, jika nilai p cukup rendah, maka hipotesis nol harus ditolak.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Contoh berikut menunjukkan kapan harus menolak (atau tidak menolak) hipotesis nol untuk jenis pengujian hipotesis yang paling umum.<\/span><\/p>\n<h2> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Contoh 1: Uji-t satu sampel<\/strong><\/span><\/h2>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><a href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/uji-sampel-t\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Uji-t satu sampel<\/a> digunakan untuk menguji apakah rata-rata suatu populasi sama dengan nilai tertentu atau tidak.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Misalnya, kita ingin mengetahui apakah berat rata-rata suatu spesies penyu tertentu adalah 310 pon atau tidak.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Kami keluar dan mengumpulkan sampel acak sederhana yang terdiri dari 40 penyu dengan informasi berikut:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">Ukuran sampel n = 40<\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">Rata-rata berat sampel <span style=\"text-decoration: overline;\">x<\/span> = 300<\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">Simpangan baku sampel s = 18,5<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Kita dapat menggunakan langkah-langkah berikut untuk melakukan uji-t satu sampel:<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Langkah 1: Nyatakan hipotesis nol dan hipotesis alternatif<\/strong><\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Kami akan melakukan uji-t satu sampel dengan hipotesis berikut:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li> <span style=\"color: #000000;\"><strong>H <sub>0<\/sub> :<\/strong> \u03bc = 310 (rata-rata jumlah penduduk sama dengan 310 buku)<\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\"><strong>H <sub>A<\/sub> :<\/strong> \u03bc \u2260 310 (rata-rata populasi tidak sama dengan 310 pon)<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>2. Tentukan tingkat signifikansi yang akan digunakan.<\/strong><\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Kami akan memilih untuk menggunakan tingkat signifikansi <strong>0,05<\/strong> .<\/span><\/p>\n<p> <strong><span style=\"color: #000000;\">3. Hitung statistik uji dan nilai p.<\/span><\/strong><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Kita dapat memasukkan angka ukuran sampel, mean sampel, dan deviasi standar sampel ke dalam <a href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/contoh-kalkulator-uji-t\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kalkulator uji-t satu sampel<\/a> ini untuk menghitung statistik pengujian dan nilai-p:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">statistik uji-t: -3,4187<\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">Nilai p dua sisi: 0,0015<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>4. Menolak atau tidak menolak hipotesis nol.<\/strong><\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Karena nilai p (0,0015) lebih kecil dari tingkat signifikansi (0,05), kami <strong>menolak hipotesis nol<\/strong> .<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Kami menyimpulkan bahwa terdapat cukup bukti yang menyatakan bahwa berat rata-rata penyu dalam populasi ini tidak sama dengan 310 pon.<\/span><\/p>\n<h2> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Contoh 2: Uji-t dua sampel<\/strong><\/span><\/h2>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><a href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/uji-dua-sampel-anda\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Uji-t dua sampel<\/a> digunakan untuk menguji apakah rata-rata dua populasi sama atau tidak.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Misalnya, kita ingin mengetahui apakah berat rata-rata dua spesies penyu yang berbeda sama atau tidak.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Kami mengumpulkan sampel acak sederhana dari setiap populasi dengan informasi berikut:<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Contoh 1:<\/strong><\/span><\/p>\n<ul>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">Ukuran sampel n <sub>1<\/sub> = 40<\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">Rata-rata berat sampel <span style=\"text-decoration: overline;\">x<\/span> <sub>1<\/sub> = 300<\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">Standar deviasi sampel s <sub>1<\/sub> = 18,5<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Contoh 2:<\/strong><\/span><\/p>\n<ul>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">Ukuran sampel n <sub>2<\/sub> = 38<\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">Rata-rata berat sampel <span style=\"text-decoration: overline;\">x<\/span> <sub>2<\/sub> = 305<\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">Standar deviasi sampel s <sub>2<\/sub> = 16,7<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Kita dapat menggunakan langkah-langkah berikut untuk melakukan uji-t dua sampel:<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Langkah 1: Nyatakan hipotesis nol dan hipotesis alternatif<\/strong><\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Kami akan melakukan uji-t dua sampel dengan asumsi berikut:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li> <span style=\"color: #000000;\"><strong>H <sub>0<\/sub> :<\/strong> \u03bc <sub>1<\/sub> = \u03bc <sub>2<\/sub> (rata-rata kedua populasi adalah sama)<\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\"><strong>H <sub>1<\/sub> :<\/strong> \u03bc <sub>1<\/sub> \u2260 \u03bc <sub>2<\/sub> (rata-rata dua populasi tidak sama)<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>2. Tentukan tingkat signifikansi yang akan digunakan.<\/strong><\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Kami akan memilih untuk menggunakan tingkat signifikansi <strong>0,10<\/strong> .<\/span><\/p>\n<p> <strong><span style=\"color: #000000;\">3. Hitung statistik uji dan nilai p.<\/span><\/strong><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Kita dapat memasukkan angka ukuran sampel, mean sampel, dan deviasi standar sampel ke dalam <a href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/ta-menguji-kalkulator-dua-sampel\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kalkulator uji-t dua sampel<\/a> ini untuk menghitung statistik pengujian dan nilai-p:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">statistik uji-t: -1,2508<\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">Nilai p dua sisi: 0,2149<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>4. Menolak atau tidak menolak hipotesis nol.<\/strong><\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Karena nilai p (0,2149) tidak kurang dari tingkat signifikansi (0,10), kita <strong>gagal menolak hipotesis nol<\/strong> .<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Kami tidak mempunyai bukti yang cukup untuk mengatakan bahwa rata-rata berat penyu antara kedua populasi ini berbeda.<\/span><\/p>\n<h2> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Contoh 3: Uji-t sampel berpasangan<\/strong><\/span><\/h2>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><a href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/uji-sampel-berpasangan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Uji-t sampel berpasangan<\/a> digunakan untuk membandingkan rata-rata dua sampel ketika setiap observasi pada satu sampel dapat dikaitkan dengan observasi pada sampel lainnya.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Misalnya, kita ingin mengetahui apakah program latihan tertentu mampu meningkatkan lompatan vertikal maksimum pemain bola basket perguruan tinggi atau tidak.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Untuk mengujinya, kita dapat merekrut <a href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/metode-pengambilan-sampel\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">sampel acak sederhana<\/a> yang terdiri dari 20 pemain bola basket perguruan tinggi dan mengukur setiap lompatan vertikal maksimum mereka. Kemudian kita dapat meminta setiap pemain menggunakan program latihan selama sebulan dan kemudian mengukur lompatan vertikal maksimumnya lagi di akhir bulan:<\/span> <\/p>\n<p><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"aligncenter wp-image-7956 \" src=\"https:\/\/statorials.org\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/jumelet1.png\" alt=\"Contoh Kumpulan Data Uji T Berpasangan\" width=\"348\" height=\"443\" srcset=\"\" sizes=\"\"><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Kita dapat menggunakan langkah-langkah berikut untuk melakukan uji-t sampel berpasangan:<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Langkah 1: Nyatakan hipotesis nol dan hipotesis alternatif<\/strong><\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Kami akan melakukan uji-t untuk sampel berpasangan dengan hipotesis berikut:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li> <span style=\"color: #000000;\"><strong>H <sub>0<\/sub> :<\/strong> \u03bc <sub>sebelum<\/sub> = \u03bc <sub>setelah<\/sub> (rata-rata kedua populasi adalah sama)<\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\"><strong>H <sub>1<\/sub> :<\/strong> \u03bc <sub>sebelum<\/sub> \u2260 \u03bc <sub>setelah<\/sub> (rata-rata dua populasi tidak sama)<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>2. Tentukan tingkat signifikansi yang akan digunakan.<\/strong><\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Kami akan memilih untuk menggunakan tingkat signifikansi <strong>0,01<\/strong> .<\/span><\/p>\n<p> <strong><span style=\"color: #000000;\">3. Hitung statistik uji dan nilai p.<\/span><\/strong><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Kita dapat memasukkan data mentah dari setiap sampel ke dalam <a href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/kalkulator-uji-t-sampel-berpasangan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kalkulator uji-t sampel berpasangan<\/a> ini untuk menghitung statistik uji dan nilai-p:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">statistik uji-t: -3.226<\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">Nilai p dua sisi: 0,0045<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>4. Menolak atau tidak menolak hipotesis nol.<\/strong><\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Karena nilai p (0,0045) lebih kecil dari tingkat signifikansi (0,01), kami <strong>menolak hipotesis nol<\/strong> .<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Kami memiliki cukup bukti untuk mengatakan bahwa rata-rata lompatan vertikal sebelum dan sesudah berpartisipasi dalam program pelatihan tidaklah sama.<\/span><\/p>\n<h2> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Bonus: kalkulator aturan pengambilan keputusan<\/strong><\/span><\/h2>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Anda dapat menggunakan <a href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/kalkulator-aturan-keputusan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kalkulator aturan keputusan<\/a> ini untuk secara otomatis menentukan apakah hipotesis nol akan ditolak atau tidak untuk pengujian hipotesis berdasarkan nilai statistik pengujian.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Uji hipotesis adalah uji statistik formal yang kita gunakan untuk menolak atau gagal menolak hipotesis statistik. Kami selalu menggunakan langkah-langkah berikut untuk melakukan pengujian hipotesis: Langkah 1: Nyatakan hipotesis nol dan hipotesis alternatif. Hipotesis nol yang dilambangkan dengan H0 adalah hipotesis yang menyatakan bahwa data sampel berasal dari kebetulan saja. Hipotesis alternatif , dilambangkan HA [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.5 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Kapan harus menolak hipotesis nol? (3 Contoh) - Statologi<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Tutorial ini menjelaskan kapan Anda harus menolak hipotesis nol selama pengujian hipotesis, dengan sebuah contoh.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/kapan-harus-menolak-hipotesis-nol\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Kapan harus menolak hipotesis nol? (3 Contoh) - Statologi\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Tutorial ini menjelaskan kapan Anda harus menolak hipotesis nol selama pengujian hipotesis, dengan sebuah contoh.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/statorials.org\/id\/kapan-harus-menolak-hipotesis-nol\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Statorials\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-07-18T12:02:07+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/statorials.org\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/jumelet1.png\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Benjamin anderson\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Benjamin anderson\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/kapan-harus-menolak-hipotesis-nol\/\",\"url\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/kapan-harus-menolak-hipotesis-nol\/\",\"name\":\"Kapan harus menolak hipotesis nol? (3 Contoh) - Statologi\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/#website\"},\"datePublished\":\"2023-07-18T12:02:07+00:00\",\"dateModified\":\"2023-07-18T12:02:07+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/3d17a1160dd2d052b7c78e502cb9ec81\"},\"description\":\"Tutorial ini menjelaskan kapan Anda harus menolak hipotesis nol selama pengujian hipotesis, dengan sebuah contoh.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/kapan-harus-menolak-hipotesis-nol\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/statorials.org\/id\/kapan-harus-menolak-hipotesis-nol\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/kapan-harus-menolak-hipotesis-nol\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Kapan harus menolak hipotesis nol? (3 contoh)\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/\",\"name\":\"Statorials\",\"description\":\"Panduan anda untuk kompetensi statistik!\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/3d17a1160dd2d052b7c78e502cb9ec81\",\"name\":\"Benjamin anderson\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"http:\/\/statorials.org\/id\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Dr.-Benjamin-Anderson-96x96.jpg\",\"contentUrl\":\"http:\/\/statorials.org\/id\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Dr.-Benjamin-Anderson-96x96.jpg\",\"caption\":\"Benjamin anderson\"},\"description\":\"Halo, saya Benjamin, pensiunan profesor statistika yang menjadi guru Statorial yang berdedikasi. Dengan pengalaman dan keahlian yang luas di bidang statistika, saya ingin berbagi ilmu untuk memberdayakan mahasiswa melalui Statorials. Baca selengkapnya\",\"sameAs\":[\"http:\/\/statorials.org\/id\"]}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Kapan harus menolak hipotesis nol? (3 Contoh) - Statologi","description":"Tutorial ini menjelaskan kapan Anda harus menolak hipotesis nol selama pengujian hipotesis, dengan sebuah contoh.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/statorials.org\/id\/kapan-harus-menolak-hipotesis-nol\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Kapan harus menolak hipotesis nol? (3 Contoh) - Statologi","og_description":"Tutorial ini menjelaskan kapan Anda harus menolak hipotesis nol selama pengujian hipotesis, dengan sebuah contoh.","og_url":"https:\/\/statorials.org\/id\/kapan-harus-menolak-hipotesis-nol\/","og_site_name":"Statorials","article_published_time":"2023-07-18T12:02:07+00:00","og_image":[{"url":"https:\/\/statorials.org\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/jumelet1.png"}],"author":"Benjamin anderson","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Benjamin anderson","Estimasi waktu membaca":"4 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/kapan-harus-menolak-hipotesis-nol\/","url":"https:\/\/statorials.org\/id\/kapan-harus-menolak-hipotesis-nol\/","name":"Kapan harus menolak hipotesis nol? (3 Contoh) - Statologi","isPartOf":{"@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/#website"},"datePublished":"2023-07-18T12:02:07+00:00","dateModified":"2023-07-18T12:02:07+00:00","author":{"@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/3d17a1160dd2d052b7c78e502cb9ec81"},"description":"Tutorial ini menjelaskan kapan Anda harus menolak hipotesis nol selama pengujian hipotesis, dengan sebuah contoh.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/kapan-harus-menolak-hipotesis-nol\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/statorials.org\/id\/kapan-harus-menolak-hipotesis-nol\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/kapan-harus-menolak-hipotesis-nol\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/statorials.org\/id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Kapan harus menolak hipotesis nol? (3 contoh)"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/#website","url":"https:\/\/statorials.org\/id\/","name":"Statorials","description":"Panduan anda untuk kompetensi statistik!","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/statorials.org\/id\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/3d17a1160dd2d052b7c78e502cb9ec81","name":"Benjamin anderson","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"http:\/\/statorials.org\/id\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Dr.-Benjamin-Anderson-96x96.jpg","contentUrl":"http:\/\/statorials.org\/id\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Dr.-Benjamin-Anderson-96x96.jpg","caption":"Benjamin anderson"},"description":"Halo, saya Benjamin, pensiunan profesor statistika yang menjadi guru Statorial yang berdedikasi. Dengan pengalaman dan keahlian yang luas di bidang statistika, saya ingin berbagi ilmu untuk memberdayakan mahasiswa melalui Statorials. Baca selengkapnya","sameAs":["http:\/\/statorials.org\/id"]}]}},"yoast_meta":{"yoast_wpseo_title":"","yoast_wpseo_metadesc":"","yoast_wpseo_canonical":""},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3245"}],"collection":[{"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3245"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3245\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3245"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3245"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3245"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}