{"id":419,"date":"2023-07-30T04:17:34","date_gmt":"2023-07-30T04:17:34","guid":{"rendered":"https:\/\/statorials.org\/id\/uji-sampel-berpasangan\/"},"modified":"2023-07-30T04:17:34","modified_gmt":"2023-07-30T04:17:34","slug":"uji-sampel-berpasangan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/statorials.org\/id\/uji-sampel-berpasangan\/","title":{"rendered":"Uji-t sampel berpasangan: definisi, rumus dan contoh"},"content":{"rendered":"<p><\/p>\n<hr>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><strong>Uji-t sampel berpasangan<\/strong> digunakan untuk membandingkan rata-rata dua sampel ketika setiap <a href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/pengamatan-dalam-statistik\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">observasi<\/a> pada satu sampel dapat dikaitkan dengan observasi pada sampel lainnya.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Tutorial ini menjelaskan hal berikut:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">Motivasi untuk melakukan uji-t sampel berpasangan.<\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">Rumus untuk melakukan uji-t sampel berpasangan.<\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">Asumsi yang harus dipenuhi untuk melakukan uji t sampel berpasangan.<\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">Contoh cara melakukan uji-t sampel berpasangan.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<h2> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Uji-t sampel berpasangan: Motivasi<\/strong><\/span><\/h2>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Uji-t sampel berpasangan biasanya digunakan dalam dua skenario:<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>1. Pengukuran dilakukan pada subjek sebelum dan sesudah perlakuan<\/strong> \u2013 misalnya, lompatan vertikal maksimum pemain bola basket perguruan tinggi diukur sebelum dan sesudah partisipasi mereka dalam program pelatihan.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>2. Pengukuran dilakukan dalam dua kondisi berbeda<\/strong> \u2013 misalnya, waktu respons pasien diukur dengan dua obat berbeda.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Dalam kedua kasus tersebut, kami ingin membandingkan pengukuran rata-rata antara dua kelompok di mana setiap observasi dari satu sampel dapat dikaitkan dengan observasi dari sampel lainnya.<\/span><\/p>\n<h2> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Uji-t sampel berpasangan:<\/strong><\/span> <span style=\"color: #000000;\"><strong>rumus<\/strong><\/span><\/h2>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Uji-t sampel berpasangan selalu menggunakan hipotesis nol berikut:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li> <span style=\"color: #000000;\"><strong>H <sub>0<\/sub> :<\/strong> \u03bc <sub>1<\/sub> = \u03bc <sub>2<\/sub> (rata-rata kedua populasi adalah sama)<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Hipotesis alternatif dapat bersifat bilateral, kiri atau kanan:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li> <span style=\"color: #000000;\"><strong>H <sub>1<\/sub> (dua sisi):<\/strong> \u03bc <strong><sub>1<\/sub><\/strong> \u2260 \u03bc <sub>2<\/sub> (rata-rata kedua populasi tidak sama)<\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\"><strong>H <sub>1<\/sub> (kiri):<\/strong> \u03bc <sub>1<\/sub> &lt; \u03bc <sub>2<\/sub> (rata-rata populasi 1 lebih rendah dibandingkan rata-rata populasi 2)<\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\"><strong>H <sub>1<\/sub> (kanan):<\/strong> \u03bc <strong><sub>1<\/sub><\/strong> &gt; \u03bc <sub>2<\/sub> (rata-rata populasi 1 lebih besar dari rata-rata populasi 2)<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Kami menggunakan rumus berikut untuk menghitung statistik uji-t:<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>t = <span style=\"text-decoration: overline;\">x<\/span> <sub>beda<\/sub> \/ (s <sub>beda<\/sub> \/\u221an)<\/strong><\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Emas:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li> <span style=\"color: #000000;\"><strong><span style=\"text-decoration: overline;\">x<\/span> <sub>diff<\/sub> :<\/strong> contoh selisih rata-rata<\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\"><strong>s :<\/strong> contoh simpangan baku selisih<\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\"><strong>n:<\/strong> ukuran sampel (yaitu jumlah pasangan)<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Jika nilai p yang sesuai dengan statistik uji-t dengan derajat kebebasan (n-1) lebih kecil dari tingkat signifikansi yang dipilih (pilihan umum adalah 0,10, 0,05, dan 0,01), maka Anda dapat menolak hipotesis nol.<\/span><\/p>\n<h2> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Uji-t sampel berpasangan: asumsi<\/strong><\/span><\/h2>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Agar hasil uji-t sampel berpasangan valid, asumsi-asumsi berikut harus dipenuhi:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">Peserta harus dipilih secara acak dari populasi.<\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">Perbedaan antar pasangan harus terdistribusi secara normal.<\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">Seharusnya tidak ada perbedaan yang ekstrim.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<h2> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Uji<\/strong><\/span> <span style=\"color: #000000;\"><strong>-t sampel<\/strong><\/span> berpasangan <span style=\"color: #000000;\"><strong>: contoh<\/strong><\/span><\/h2>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Misalkan kita ingin mengetahui apakah suatu program latihan tertentu mampu meningkatkan lompatan vertikal maksimum (dalam inci) pemain bola basket perguruan tinggi atau tidak.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Untuk mengujinya, kita dapat merekrut <a href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/metode-pengambilan-sampel\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">sampel acak sederhana<\/a> yang terdiri dari 20 pemain bola basket perguruan tinggi dan mengukur setiap lompatan vertikal maksimum mereka. Kemudian kita dapat meminta setiap pemain menggunakan program pelatihan selama sebulan dan kemudian mengukur lompatan vertikal maksimum mereka lagi pada akhir bulan tersebut.<\/span> <\/p>\n<p><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"aligncenter wp-image-7956 \" src=\"https:\/\/statorials.org\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/jumelet1.png\" alt=\"Contoh Kumpulan Data Uji T Berpasangan\" width=\"348\" height=\"443\" srcset=\"\" sizes=\"\"><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Untuk menentukan apakah program latihan benar-benar berpengaruh terhadap lompatan vertikal maksimum, kami akan melakukan uji-t sampel berpasangan pada tingkat signifikansi \u03b1 = 0,05 dengan menggunakan langkah-langkah berikut:<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Langkah 1: Hitung data ringkasan untuk perbedaannya.<\/strong><\/span> <\/p>\n<p><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"wp-image-7958 aligncenter\" src=\"https:\/\/statorials.org\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/jumelet2.png\" alt=\"Kumpulan data uji-t sampel berpasangan\" width=\"398\" height=\"455\" srcset=\"\" sizes=\"\"><\/p>\n<ul>\n<li> <span style=\"color: #000000;\"><strong><span style=\"text-decoration: overline;\">x<\/span> <sub>diff<\/sub> :<\/strong> rata-rata sampel selisih = <strong>-0,95<\/strong><\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\"><strong>s:<\/strong> standar deviasi sampel selisih = <strong>1,317<\/strong><\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\"><strong>n:<\/strong> ukuran sampel (yaitu jumlah pasangan) = <strong>20<\/strong><\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Langkah 2: Tentukan asumsi.<\/strong><\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Kami akan melakukan uji-t untuk sampel berpasangan dengan hipotesis berikut:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li> <span style=\"color: #000000;\"><strong>H <sub>0<\/sub> :<\/strong> \u03bc <sub>1<\/sub> = \u03bc <sub>2<\/sub> (rata-rata kedua populasi adalah sama)<\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\"><strong>H <sub>1<\/sub> :<\/strong> \u03bc <sub>1<\/sub> \u2260 \u03bc <sub>2<\/sub> (rata-rata dua populasi tidak sama)<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Langkah 3: Hitung statistik uji- <em>t<\/em> .<\/strong><\/span><\/p>\n<p> <strong><span style=\"color: #000000;\">t = <span style=\"text-decoration: overline;\">x<\/span> <sub>perbedaan<\/sub> \/ (s <sub>perbedaan<\/sub> \/\u221an)<\/span><\/strong> <span style=\"color: #000000;\">= -0,95 \/ (1,317\/ <strong>\u221a<\/strong> 20) = <strong>-3,226<\/strong><\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Langkah 4: Hitung nilai p dari statistik uji <em>-t<\/em> .<\/strong><\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Menurut <a href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/t-skor-kalkulator-nilai-p\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kalkulator skor T ke Nilai P<\/a> , nilai p yang terkait dengan t = -3,226 dan derajat kebebasan = n-1 = 20-1 = 19 adalah <strong>0,00445<\/strong> .<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Langkah 5: Buatlah kesimpulan.<\/strong><\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Karena nilai p ini berada di bawah tingkat signifikansi \u03b1 = 0,05, kami menolak hipotesis nol. Kami memiliki cukup bukti yang mengatakan bahwa rata-rata lompatan vertikal maksimum pemain sebelum dan sesudah mengikuti program latihan berbeda.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><em><strong>Catatan:<\/strong> Anda juga dapat melakukan uji-t sampel berpasangan secara keseluruhan hanya dengan menggunakan <a href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/kalkulator-uji-t-sampel-berpasangan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kalkulator uji-t sampel berpasangan<\/a> .<\/em><\/span><\/p>\n<h2> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Sumber daya tambahan<\/strong><\/span><\/h2>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Tutorial berikut menjelaskan cara melakukan uji-t sampel berpasangan menggunakan program statistik yang berbeda:<\/span><\/p>\n<p> <a href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/sampel-berpasangan-t-uji-excel\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Cara melakukan uji-t sampel berpasangan di Excel<\/a><br \/> <a href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/sampel-berpasangan-uji-t-spss\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Cara melakukan uji-t sampel berpasangan di SPSS<\/a><br \/> Cara melakukan uji-t sampel berpasangan di Stata<br \/> Cara Melakukan Uji-t Sampel Berpasangan pada Kalkulator TI-84<br \/> <a href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/uji-t-sampel-berpasangan-r\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Cara melakukan uji-t sampel berpasangan di R<\/a><br \/> <a href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/sampel-berpasangan-t-uji-python\/\">Cara melakukan uji-t sampel berpasangan dengan Python<\/a><br \/> <a href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/uji-t-berpasangan-tangan\/\">Cara Melakukan Uji-T Sampel Berpasangan dengan Tangan<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Uji-t sampel berpasangan digunakan untuk membandingkan rata-rata dua sampel ketika setiap observasi pada satu sampel dapat dikaitkan dengan observasi pada sampel lainnya. Tutorial ini menjelaskan hal berikut: Motivasi untuk melakukan uji-t sampel berpasangan. Rumus untuk melakukan uji-t sampel berpasangan. Asumsi yang harus dipenuhi untuk melakukan uji t sampel berpasangan. Contoh cara melakukan uji-t sampel berpasangan. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.5 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Uji-t sampel berpasangan: definisi, rumus dan contoh - Statorial<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Penjelasan sederhana tentang cara melakukan uji-t sampel berpasangan beserta contoh langkah demi langkahnya.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/uji-sampel-berpasangan\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Uji-t sampel berpasangan: definisi, rumus dan contoh - Statorial\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Penjelasan sederhana tentang cara melakukan uji-t sampel berpasangan beserta contoh langkah demi langkahnya.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/statorials.org\/id\/uji-sampel-berpasangan\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Statorials\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-07-30T04:17:34+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/statorials.org\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/jumelet1.png\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Benjamin anderson\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Benjamin anderson\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/uji-sampel-berpasangan\/\",\"url\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/uji-sampel-berpasangan\/\",\"name\":\"Uji-t sampel berpasangan: definisi, rumus dan contoh - Statorial\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/#website\"},\"datePublished\":\"2023-07-30T04:17:34+00:00\",\"dateModified\":\"2023-07-30T04:17:34+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/3d17a1160dd2d052b7c78e502cb9ec81\"},\"description\":\"Penjelasan sederhana tentang cara melakukan uji-t sampel berpasangan beserta contoh langkah demi langkahnya.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/uji-sampel-berpasangan\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/statorials.org\/id\/uji-sampel-berpasangan\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/uji-sampel-berpasangan\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Uji-t sampel berpasangan: definisi, rumus dan contoh\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/\",\"name\":\"Statorials\",\"description\":\"Panduan anda untuk kompetensi statistik!\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/3d17a1160dd2d052b7c78e502cb9ec81\",\"name\":\"Benjamin anderson\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"http:\/\/statorials.org\/id\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Dr.-Benjamin-Anderson-96x96.jpg\",\"contentUrl\":\"http:\/\/statorials.org\/id\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Dr.-Benjamin-Anderson-96x96.jpg\",\"caption\":\"Benjamin anderson\"},\"description\":\"Halo, saya Benjamin, pensiunan profesor statistika yang menjadi guru Statorial yang berdedikasi. Dengan pengalaman dan keahlian yang luas di bidang statistika, saya ingin berbagi ilmu untuk memberdayakan mahasiswa melalui Statorials. Baca selengkapnya\",\"sameAs\":[\"http:\/\/statorials.org\/id\"]}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Uji-t sampel berpasangan: definisi, rumus dan contoh - Statorial","description":"Penjelasan sederhana tentang cara melakukan uji-t sampel berpasangan beserta contoh langkah demi langkahnya.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/statorials.org\/id\/uji-sampel-berpasangan\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Uji-t sampel berpasangan: definisi, rumus dan contoh - Statorial","og_description":"Penjelasan sederhana tentang cara melakukan uji-t sampel berpasangan beserta contoh langkah demi langkahnya.","og_url":"https:\/\/statorials.org\/id\/uji-sampel-berpasangan\/","og_site_name":"Statorials","article_published_time":"2023-07-30T04:17:34+00:00","og_image":[{"url":"https:\/\/statorials.org\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/jumelet1.png"}],"author":"Benjamin anderson","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Benjamin anderson","Estimasi waktu membaca":"3 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/uji-sampel-berpasangan\/","url":"https:\/\/statorials.org\/id\/uji-sampel-berpasangan\/","name":"Uji-t sampel berpasangan: definisi, rumus dan contoh - Statorial","isPartOf":{"@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/#website"},"datePublished":"2023-07-30T04:17:34+00:00","dateModified":"2023-07-30T04:17:34+00:00","author":{"@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/3d17a1160dd2d052b7c78e502cb9ec81"},"description":"Penjelasan sederhana tentang cara melakukan uji-t sampel berpasangan beserta contoh langkah demi langkahnya.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/uji-sampel-berpasangan\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/statorials.org\/id\/uji-sampel-berpasangan\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/uji-sampel-berpasangan\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/statorials.org\/id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Uji-t sampel berpasangan: definisi, rumus dan contoh"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/#website","url":"https:\/\/statorials.org\/id\/","name":"Statorials","description":"Panduan anda untuk kompetensi statistik!","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/statorials.org\/id\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/3d17a1160dd2d052b7c78e502cb9ec81","name":"Benjamin anderson","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"http:\/\/statorials.org\/id\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Dr.-Benjamin-Anderson-96x96.jpg","contentUrl":"http:\/\/statorials.org\/id\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Dr.-Benjamin-Anderson-96x96.jpg","caption":"Benjamin anderson"},"description":"Halo, saya Benjamin, pensiunan profesor statistika yang menjadi guru Statorial yang berdedikasi. Dengan pengalaman dan keahlian yang luas di bidang statistika, saya ingin berbagi ilmu untuk memberdayakan mahasiswa melalui Statorials. Baca selengkapnya","sameAs":["http:\/\/statorials.org\/id"]}]}},"yoast_meta":{"yoast_wpseo_title":"","yoast_wpseo_metadesc":"","yoast_wpseo_canonical":""},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/419"}],"collection":[{"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=419"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/419\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=419"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=419"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=419"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}