{"id":483,"date":"2023-07-29T18:29:23","date_gmt":"2023-07-29T18:29:23","guid":{"rendered":"https:\/\/statorials.org\/id\/tes-post-hoc-anova\/"},"modified":"2023-07-29T18:29:23","modified_gmt":"2023-07-29T18:29:23","slug":"tes-post-hoc-anova","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/statorials.org\/id\/tes-post-hoc-anova\/","title":{"rendered":"Panduan menggunakan pengujian post-hoc dengan anova"},"content":{"rendered":"<p><\/p>\n<hr>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><strong>ANOVA<\/strong> adalah uji statistik yang digunakan untuk menentukan apakah terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik antara rata-rata tiga atau lebih kelompok independen.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Asumsi yang digunakan dalam ANOVA adalah sebagai berikut:<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Hipotesis nol (H <sub>0<\/sub> ): \u00b5 <sub>1<\/sub> = \u00b5 <sub>2<\/sub> = \u00b5 <sub>3<\/sub> = \u2026 = \u00b5 <sub>k<\/sub> (rata-ratanya sama untuk setiap kelompok)<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Hipotesis alternatif: (Ha): setidaknya salah satu mean berbeda dengan mean lainnya<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Jika nilai p ANOVA berada di bawah tingkat signifikansi, kita dapat menolak hipotesis nol dan menyimpulkan bahwa kita memiliki cukup bukti untuk mengatakan bahwa setidaknya salah satu mean kelompok berbeda dari mean kelompok lainnya.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Namun, hal ini tidak memberi tahu kita kelompok <em>mana<\/em> yang berbeda satu sama lain. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa tidak semua rata-rata kelompok adalah sama.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Untuk mengetahui dengan pasti kelompok mana yang berbeda satu sama lain, kita perlu melakukan <strong>tes post hoc<\/strong> (juga dikenal sebagai tes perbandingan berganda), yang memungkinkan kita mengeksplorasi perbedaan antara rata-rata beberapa kelompok sekaligus mengendalikan keluarga. . tingkat kesalahan yang wajar.<\/span><\/p>\n<blockquote>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Catatan Teknis:<\/strong> Penting untuk dicatat bahwa kita hanya boleh melakukan uji post hoc ketika nilai p ANOVA signifikan secara statistik. Jika nilai p tidak signifikan secara statistik, hal ini menunjukkan bahwa rata-rata semua kelompok tidak berbeda satu sama lain. Oleh karena itu, tidak perlu dilakukan post hoc test untuk mengetahui kelompok mana yang berbeda satu sama lain.<\/span><\/p>\n<\/blockquote>\n<h2> <strong><span style=\"color: #000000;\">Tingkat kesalahan keluarga<\/span><\/strong><\/h2>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Seperti disebutkan sebelumnya, tes post hoc memungkinkan kita menguji perbedaan rata-rata beberapa kelompok sekaligus mengontrol <strong>tingkat kesalahan per keluarga<\/strong> .<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Dalam pengujian hipotesis , selalu ada tingkat kesalahan Tipe I, yang ditentukan oleh tingkat signifikansi (alfa) dan memberi tahu kita kemungkinan menolak hipotesis nol yang sebenarnya benar. Dengan kata lain, ini adalah kemungkinan memperoleh &#8220;positif palsu&#8221;, yaitu ketika kita mengklaim bahwa terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik antara kelompok-kelompok tersebut, padahal kenyataannya tidak demikian.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Saat kita melakukan pengujian hipotesis, tingkat kesalahan Tipe I sama dengan tingkat signifikansi, yang biasanya dipilih sebesar 0,01, 0,05, atau 0,10. Namun, ketika kita menjalankan beberapa uji hipotesis sekaligus, kemungkinan mendapatkan hasil positif palsu meningkat.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Misalnya, bayangkan kita melempar sebuah dadu bersisi 20. Peluang munculnya dadu pada angka \u201c1\u201d hanya 5%. Namun jika Anda melempar dua dadu sekaligus, kemungkinan salah satu dadu mendarat di angka \u201c1\u201d meningkat menjadi 9,75%. Jika kita melempar lima dadu sekaligus, probabilitasnya meningkat menjadi 22,6%.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Semakin banyak dadu yang kita lempar, semakin tinggi kemungkinan salah satu dadu mendarat di angka \u201c1\u201d. Demikian pula, jika kita menjalankan beberapa uji hipotesis sekaligus menggunakan tingkat signifikansi 0,05, kemungkinan kita mendapatkan hasil positif palsu akan meningkat melebihi 0,05 saja.<\/span><\/p>\n<h2> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Beberapa perbandingan di ANOVA<\/strong><\/span><\/h2>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Saat kami melakukan ANOVA, kami sering membandingkan tiga kelompok atau lebih. Jadi ketika kita melakukan tes post hoc untuk mengeksplorasi perbedaan antara rata-rata kelompok, kita ingin mengeksplorasi beberapa perbandingan <strong>berpasangan<\/strong> .<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Misalnya, kita mempunyai empat kelompok: A, B, C, dan D. Artinya, ada total enam perbandingan berpasangan yang ingin kita uji dengan uji post hoc:<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">A \u2013 B (selisih rata-rata kelompok A dengan rata-rata kelompok B)<\/span><br \/> <span style=\"color: #000000;\">AC<\/span><br \/> <span style=\"color: #000000;\">PENGUMUMAN<\/span><br \/> <span style=\"color: #000000;\">SM<\/span><br \/> <span style=\"color: #000000;\">komik<\/span><br \/> <span style=\"color: #000000;\">CD<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Jika kita mempunyai lebih dari empat kelompok, jumlah perbandingan berpasangan yang ingin kita lakukan akan semakin bertambah. Tabel berikut menggambarkan jumlah perbandingan berpasangan yang terkait dengan setiap jumlah kelompok serta tingkat kesalahan per keluarga:<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Perhatikan bahwa tingkat kesalahan per keluarga meningkat dengan cepat seiring dengan meningkatnya jumlah kelompok (dan juga jumlah perbandingan berpasangan). Faktanya, setelah kita mencapai enam kelompok, kemungkinan kita mendapatkan hasil positif palsu sebenarnya lebih dari 50%!<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Ini berarti bahwa kami akan sangat meragukan hasil kami jika kami harus melakukan begitu banyak perbandingan berpasangan, karena mengetahui bahwa tingkat kesalahan kekeluargaan kami sangat tinggi.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Untungnya, pengujian post-hoc memungkinkan kami membuat beberapa perbandingan antar kelompok sambil mengontrol tingkat kesalahan berdasarkan keluarga.<\/span><\/p>\n<h2> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Contoh: ANOVA satu arah dengan uji post-hoc<\/strong><\/span><\/h2>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Contoh berikut mengilustrasikan bagaimana melakukan <a href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/anova-satu-arah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ANOVA satu arah<\/a> dengan tes post hoc.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><em><strong>Catatan:<\/strong> Contoh ini menggunakan bahasa pemrograman R, tetapi Anda tidak perlu mengetahui R untuk memahami hasil tes atau kesimpulan utama.<\/em><\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Pertama, kita akan membuat dataset yang berisi empat grup (A, B, C, D) dengan 20 observasi per grup:<\/span><\/p>\n<pre style=\"background-color: #e5e5e5; font-size: 15px;\"> <strong><span style=\"color: #008080;\">#make this example reproducible\n<span style=\"color: #000000;\">set.seed(1)<\/span>\n\n#load <em>tidyr<\/em> library to convert data from wide to long format<\/span>\nlibrary(tidyr)\n\n<span style=\"color: #008080;\">#create wide dataset\n<\/span>data &lt;- data.frame(A = runif(20, 2, 5),\n                   B = runif(20, 3, 5),\n                   C = runif(20, 3, 6),\n                   D = runif(20, 4, 6))\n\n<span style=\"color: #008080;\">#convert to long dataset for ANOVA\n<\/span>data_long &lt;- gather(data, key = \"group\", value = \"amount\", A, B, C, D)\n\n<span style=\"color: #008080;\">#view first six lines of dataset\n<\/span>head(data_long)\n\n# group amount\n#1 To 2.796526\n#2 A 3.116372\n#3 A 3.718560\n#4 A 4.724623\n#5 A 2.605046\n#6 A 4.695169\n<\/strong><\/pre>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Selanjutnya kita akan melakukan ANOVA satu arah pada dataset:<\/span><\/p>\n<pre style=\"background-color: #e5e5e5; font-size: 15px;\"> <strong><span style=\"color: #008080;\">#fit anova model\n<\/span>anova_model &lt;- aov(amount ~ group, data = data_long)\n\n<span style=\"color: #008080;\">#view summary of anova model\n<\/span>summary(anova_model)\n\n# Df Sum Sq Mean Sq F value Pr(&gt;F)    \n#group 3 25.37 8.458 17.66 8.53e-09 ***\n#Residuals 76 36.39 0.479            \n<\/strong><\/pre>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Dari hasil tabel ANOVA, kita melihat bahwa statistik F adalah 17,66 dan nilai p yang sesuai sangat kecil.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Ini berarti bahwa kita mempunyai cukup bukti untuk menolak hipotesis nol yang menyatakan bahwa semua rata-rata kelompok adalah sama. Kemudian kita dapat menggunakan tes post hoc untuk menentukan mean kelompok mana yang berbeda satu sama lain.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Kami akan meninjau contoh tes post hoc berikut:<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Tes Tukey<\/strong> \u2013 berguna ketika Anda ingin membuat semua kemungkinan perbandingan berpasangan<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Metode Holm<\/strong> \u2013 tes yang sedikit lebih konservatif dibandingkan tes Tukey<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\"><a href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/tes-dunnett\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><strong>Koreksi Dunnett<\/strong><\/a> \u2013 berguna ketika Anda ingin membandingkan rata-rata setiap kelompok dengan rata-rata kontrol dan tidak ingin membandingkan rata-rata perlakuan satu sama lain.<\/span><\/p>\n<h2> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Tes Tukey<\/strong><\/span><\/h2>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Kita dapat melakukan pengujian Tukey untuk beberapa perbandingan menggunakan fungsi R bawaan <strong>TukeyHSD()<\/strong> sebagai berikut:<\/span><\/p>\n<pre style=\"background-color: #e5e5e5; font-size: 15px;\"> <strong><span style=\"color: #008080;\">#perform Tukey's Test for multiple comparisons\n<\/span>TukeyHSD(anova_model, conf.level=.95) \n\n#Tukey multiple comparisons of means\n# 95% family-wise confidence level\n#\n#Fit: aov(formula = amount ~ group, data = data_long)\n#\n#$group\n# diff lwr upr p adj\n#BA 0.2822630 -0.292540425 0.8570664 0.5721402\n#CA 0.8561388 0.281335427 1.4309423 0.0011117\n#DA 1.4676027 0.892799258 2.0424061 0.0000000\n#CB 0.5738759 -0.000927561 1.1486793 0.0505270\n#DB 1.1853397 0.610536271 1.7601431 0.0000041\n#DC 0.6114638 0.036660419 1.1862672 0.0326371\n<\/strong><\/pre>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Perhatikan bahwa kami menetapkan bahwa tingkat kepercayaan kami adalah 95%, yang berarti kami ingin tingkat kesalahan per keluarga menjadi 0,05. R memberi kita dua metrik untuk membandingkan setiap perbedaan berpasangan:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">Interval kepercayaan untuk perbedaan rata-rata (diberikan oleh nilai <em>lwr<\/em> dan <em>upr<\/em> )<\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">nilai p disesuaikan dengan perbedaan rata-rata<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Interval kepercayaan dan nilai p akan menghasilkan kesimpulan yang sama.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Misalnya, interval kepercayaan 95% untuk perbedaan rata-rata antara kelompok C dan kelompok A adalah (0,2813, 1,4309), dan karena interval ini tidak mengandung nol, kita tahu bahwa perbedaan antara rata-rata kedua kelompok ini signifikan secara statistik. Secara khusus, kita mengetahui bahwa selisihnya positif, karena batas bawah selang kepercayaan lebih besar dari nol.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Demikian pula, nilai p untuk perbedaan rata-rata antara Grup C dan Grup A adalah 0,0011, lebih rendah dari tingkat signifikansi kami yaitu 0,05, yang juga menunjukkan bahwa perbedaan antara rata-rata kedua kelompok ini signifikan secara statistik.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Kita juga dapat memvisualisasikan interval kepercayaan 95% yang dihasilkan dari pengujian Tukey menggunakan fungsi <strong>plot()<\/strong> di R:<\/span><\/p>\n<pre style=\"background-color: #e5e5e5; font-size: 15px;\"> <strong>plot(TukeyHSD(anova_model, conf.level=.95))\n<\/strong><\/pre>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Jika intervalnya berisi nol, maka kita tahu bahwa perbedaan rata-rata antar kelompok tidak signifikan secara statistik. Pada contoh di atas, perbedaan BA dan CB tidak signifikan secara statistik, namun perbedaan empat perbandingan berpasangan lainnya signifikan secara statistik.<\/span><\/p>\n<h2> <span style=\"color: #000000;\"><strong>metode Holm<\/strong><\/span><\/h2>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Tes post hoc lain yang dapat kita lakukan adalah metode Holm. Tes ini umumnya dianggap lebih konservatif dibandingkan tes Tukey.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Kita dapat menggunakan kode berikut di R untuk menjalankan metode Holm untuk beberapa perbandingan berpasangan:<\/span><\/p>\n<pre style=\"background-color: #e5e5e5; font-size: 15px;\"> <strong><span style=\"color: #008080;\">#perform holm's method for multiple comparisons<\/span>\npairwise.t.test(data_long$amount, data_long$group, p.adjust=\"holm\") \n# Pairwise comparisons using t tests with pooled SD \n#\n#data: data_long$amount and data_long$group \n#\n#ABC\n#B 0.20099 - -      \n#C 0.00079 0.02108 -      \n#D 1.9e-08 3.4e-06 0.01974\n#\n#P value adjustment method: holm<\/strong><\/pre>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Tes ini memberikan grid nilai p untuk setiap perbandingan berpasangan. Misalnya, nilai p selisih rata-rata kelompok A dan kelompok B adalah 0,20099.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Jika Anda membandingkan nilai p dari pengujian ini dengan nilai p dari uji Tukey, Anda akan melihat bahwa setiap perbandingan berpasangan menghasilkan kesimpulan yang sama, kecuali perbedaan antara kelompok C dan D. Nilai p -nilai perbedaan ini adalah 0,0505 pada uji Tukey dibandingkan dengan 0,02108 pada metode Holm.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Jadi, dengan menggunakan uji Tukey, kami menyimpulkan bahwa perbedaan antara kelompok C dan kelompok D tidak signifikan secara statistik pada tingkat signifikansi 0,05, namun dengan menggunakan metode Holm, kami menyimpulkan bahwa perbedaan antara kelompok C dan kelompok D <em>signifikan<\/em> secara statistik.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Secara umum nilai p-value yang dihasilkan metode Holm cenderung lebih rendah dibandingkan dengan nilai p-value yang dihasilkan uji Tukey.<\/span><\/p>\n<h2> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Koreksi Dunnett<\/strong><\/span><\/h2>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Metode lain yang dapat kita gunakan untuk beberapa perbandingan adalah koreksi Dunett. Kita akan menggunakan pendekatan ini ketika kita ingin membandingkan rata-rata tiap kelompok dengan rata-rata kontrol dan kita tidak ingin membandingkan rata-rata perlakuan satu sama lain.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Misalnya, dengan menggunakan kode di bawah ini, kita membandingkan rata-rata kelompok B, C, dan D dengan kelompok A. Jadi, kita menggunakan kelompok A sebagai kelompok kontrol dan kita tidak tertarik pada perbedaan antara kelompok B, C. ., dan D.<\/span><\/p>\n<pre style=\"background-color: #e5e5e5; font-size: 15px;\"> <strong><span style=\"color: #008080;\">#load multcomp library necessary for using Dunnett's Correction<\/span>\nlibrary(multicomp)\n\n<span style=\"color: #008080;\">#convert group variable to factor \n<\/span>data_long$group &lt;- as.factor(data_long$group)\n\n<span style=\"color: #008080;\">#fit anova model\n<\/span>anova_model &lt;- aov(amount ~ group, data = data_long)\n\n<span style=\"color: #008080;\">#performcomparisons\n<\/span>dunnet_comparison &lt;- glht(anova_model, linfct = mcp(group = \"Dunnett\"))\n\n<span style=\"color: #008080;\">#view summary of comparisons\n<\/span>summary(dunnet_comparison)\n\n#Multiple Comparisons of Means: Dunnett Contrasts\n#\n#Fit: aov(formula = amount ~ group, data = data_long)\n#\n#Linear Assumptions:\n#Estimate Std. Error t value Pr(&gt;|t|)    \n#B - A == 0 0.2823 0.2188 1.290 0.432445    \n#C - A == 0 0.8561 0.2188 3.912 0.000545 ***\n#D - A == 0 1.4676 0.2188 6.707 &lt; 1e-04 ***<\/strong><\/pre>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Dari nilai p pada output, kita dapat melihat hal berikut:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">Perbedaan antara rata-rata kelompok B dan kelompok A <em>tidak<\/em> signifikan secara statistik pada tingkat signifikansi 0,05. Nilai p untuk tes ini adalah <strong>0,4324<\/strong> .<\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">Perbedaan antara rata-rata Grup C dan Grup A <em>signifikan<\/em> secara statistik pada tingkat signifikansi 0,05. Nilai p untuk tes ini adalah <strong>0,0005<\/strong> .<\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">Perbedaan antara rata-rata Grup D dan Grup A <em>signifikan<\/em> secara statistik pada tingkat signifikansi 0,05. Nilai p untuk tes ini adalah <strong>0,00004<\/strong> .<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Seperti disebutkan sebelumnya, pendekatan ini memperlakukan Grup A sebagai kelompok &#8220;kontrol&#8221; dan hanya membandingkan rata-rata semua kelompok lain dengan Grup A. Perhatikan bahwa tidak ada pengujian yang dilakukan untuk mengetahui perbedaan antara kelompok B, C, dan D karena kami tidak melakukan pengujian apa pun. tidak melakukannya. Saya tidak tertarik dengan perbedaan antara kelompok-kelompok ini.<\/span><\/p>\n<h2> <strong><span style=\"color: #000000;\">Catatan tentang pengujian post-hoc dan kekuatan statistik<\/span><\/strong><\/h2>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Tes post hoc melakukan pekerjaan yang sangat baik dalam mengendalikan tingkat kesalahan keluarga, namun kerugiannya adalah tes tersebut mengurangi kekuatan statistik perbandingan. Memang benar, satu-satunya cara untuk mengurangi tingkat kesalahan berdasarkan keluarga adalah dengan menggunakan tingkat signifikansi yang lebih rendah untuk semua perbandingan individu.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Misalnya, ketika kita menggunakan uji Tukey untuk enam perbandingan berpasangan dan kita ingin mempertahankan tingkat kesalahan kekeluargaan sebesar 0,05, kita harus menggunakan tingkat signifikansi sekitar 0,011 untuk setiap tingkat signifikansi individual. Semakin banyak perbandingan berpasangan yang kita buat, semakin rendah tingkat signifikansi yang harus kita gunakan untuk setiap tingkat signifikansi individual.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Masalahnya adalah tingkat signifikansi yang lebih rendah menunjukkan kekuatan statistik yang lebih rendah. Artinya, jika memang ada perbedaan antar rata-rata kelompok dalam suatu populasi, maka penelitian yang kurang berdaya akan kecil kemungkinannya untuk mendeteksinya.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Salah satu cara untuk mengurangi dampak trade-off ini adalah dengan mengurangi jumlah perbandingan berpasangan yang kita lakukan. Misalnya, pada contoh sebelumnya, kami melakukan enam perbandingan berpasangan untuk empat kelompok berbeda. Namun, tergantung pada kebutuhan studi Anda, Anda mungkin hanya ingin membuat beberapa perbandingan.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Dengan membuat lebih sedikit perbandingan, Anda tidak perlu terlalu mengurangi kekuatan statistik.<\/span><\/p>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Penting untuk dicatat bahwa <em>sebelum<\/em> melakukan ANOVA, Anda harus menentukan dengan tepat kelompok mana yang ingin Anda bandingkan dan uji post hoc mana yang akan Anda gunakan untuk membuat perbandingan tersebut. Jika tidak, jika Anda hanya melihat tes post hoc mana yang memberikan hasil signifikan secara statistik, hal ini akan mengurangi integritas penelitian.<\/span><\/p>\n<h2> <span style=\"color: #000000;\"><strong>Kesimpulan<\/strong><\/span><\/h2>\n<p> <span style=\"color: #000000;\">Dalam artikel ini, kami mempelajari hal-hal berikut:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">ANOVA digunakan untuk menentukan apakah terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik antara rata-rata tiga atau lebih kelompok independen.<\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">Jika ANOVA menghasilkan nilai p di bawah tingkat signifikansi, kita dapat menggunakan tes post hoc untuk mengetahui mean kelompok mana yang berbeda satu sama lain.<\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">Tes post-hoc memungkinkan kami mengontrol tingkat kesalahan per keluarga sambil melakukan beberapa perbandingan berpasangan.<\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">Kerugian dalam mengendalikan tingkat kesalahan berdasarkan keluarga adalah kekuatan statistik yang lebih kecil. Kita dapat mengurangi dampak dari kekuatan statistik yang lebih rendah dengan membuat lebih sedikit perbandingan berpasangan.<\/span><\/li>\n<li> <span style=\"color: #000000;\">Anda harus terlebih dahulu menentukan pada kelompok mana Anda ingin melakukan perbandingan berpasangan dan tes post hoc mana yang akan Anda gunakan untuk melakukannya.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ANOVA adalah uji statistik yang digunakan untuk menentukan apakah terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik antara rata-rata tiga atau lebih kelompok independen. Asumsi yang digunakan dalam ANOVA adalah sebagai berikut: Hipotesis nol (H 0 ): \u00b5 1 = \u00b5 2 = \u00b5 3 = \u2026 = \u00b5 k (rata-ratanya sama untuk setiap kelompok) Hipotesis alternatif: [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.5 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Panduan Penggunaan Pengujian Post Hoc dengan ANOVA - Statorials<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Tutorial ini menjelaskan cara menggunakan pengujian post-hoc dengan ANOVA untuk menguji perbedaan rata-rata kelompok.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/statorials.org\/id\/tes-post-hoc-anova\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Panduan Penggunaan Pengujian Post Hoc dengan ANOVA - Statorials\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Tutorial ini menjelaskan cara menggunakan pengujian post-hoc dengan ANOVA untuk menguji perbedaan rata-rata kelompok.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/statorials.org\/id\/tes-post-hoc-anova\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Statorials\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-07-29T18:29:23+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Benjamin anderson\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Benjamin anderson\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"10 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/tes-post-hoc-anova\/\",\"url\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/tes-post-hoc-anova\/\",\"name\":\"Panduan Penggunaan Pengujian Post Hoc dengan ANOVA - Statorials\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/#website\"},\"datePublished\":\"2023-07-29T18:29:23+00:00\",\"dateModified\":\"2023-07-29T18:29:23+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/3d17a1160dd2d052b7c78e502cb9ec81\"},\"description\":\"Tutorial ini menjelaskan cara menggunakan pengujian post-hoc dengan ANOVA untuk menguji perbedaan rata-rata kelompok.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/tes-post-hoc-anova\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/statorials.org\/id\/tes-post-hoc-anova\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/tes-post-hoc-anova\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Panduan menggunakan pengujian post-hoc dengan anova\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/\",\"name\":\"Statorials\",\"description\":\"Panduan anda untuk kompetensi statistik!\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/3d17a1160dd2d052b7c78e502cb9ec81\",\"name\":\"Benjamin anderson\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"http:\/\/statorials.org\/id\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Dr.-Benjamin-Anderson-96x96.jpg\",\"contentUrl\":\"http:\/\/statorials.org\/id\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Dr.-Benjamin-Anderson-96x96.jpg\",\"caption\":\"Benjamin anderson\"},\"description\":\"Halo, saya Benjamin, pensiunan profesor statistika yang menjadi guru Statorial yang berdedikasi. Dengan pengalaman dan keahlian yang luas di bidang statistika, saya ingin berbagi ilmu untuk memberdayakan mahasiswa melalui Statorials. Baca selengkapnya\",\"sameAs\":[\"http:\/\/statorials.org\/id\"]}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Panduan Penggunaan Pengujian Post Hoc dengan ANOVA - Statorials","description":"Tutorial ini menjelaskan cara menggunakan pengujian post-hoc dengan ANOVA untuk menguji perbedaan rata-rata kelompok.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/statorials.org\/id\/tes-post-hoc-anova\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Panduan Penggunaan Pengujian Post Hoc dengan ANOVA - Statorials","og_description":"Tutorial ini menjelaskan cara menggunakan pengujian post-hoc dengan ANOVA untuk menguji perbedaan rata-rata kelompok.","og_url":"https:\/\/statorials.org\/id\/tes-post-hoc-anova\/","og_site_name":"Statorials","article_published_time":"2023-07-29T18:29:23+00:00","author":"Benjamin anderson","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Benjamin anderson","Estimasi waktu membaca":"10 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/tes-post-hoc-anova\/","url":"https:\/\/statorials.org\/id\/tes-post-hoc-anova\/","name":"Panduan Penggunaan Pengujian Post Hoc dengan ANOVA - Statorials","isPartOf":{"@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/#website"},"datePublished":"2023-07-29T18:29:23+00:00","dateModified":"2023-07-29T18:29:23+00:00","author":{"@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/3d17a1160dd2d052b7c78e502cb9ec81"},"description":"Tutorial ini menjelaskan cara menggunakan pengujian post-hoc dengan ANOVA untuk menguji perbedaan rata-rata kelompok.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/tes-post-hoc-anova\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/statorials.org\/id\/tes-post-hoc-anova\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/tes-post-hoc-anova\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/statorials.org\/id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Panduan menggunakan pengujian post-hoc dengan anova"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/#website","url":"https:\/\/statorials.org\/id\/","name":"Statorials","description":"Panduan anda untuk kompetensi statistik!","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/statorials.org\/id\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/3d17a1160dd2d052b7c78e502cb9ec81","name":"Benjamin anderson","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/statorials.org\/id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"http:\/\/statorials.org\/id\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Dr.-Benjamin-Anderson-96x96.jpg","contentUrl":"http:\/\/statorials.org\/id\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Dr.-Benjamin-Anderson-96x96.jpg","caption":"Benjamin anderson"},"description":"Halo, saya Benjamin, pensiunan profesor statistika yang menjadi guru Statorial yang berdedikasi. Dengan pengalaman dan keahlian yang luas di bidang statistika, saya ingin berbagi ilmu untuk memberdayakan mahasiswa melalui Statorials. Baca selengkapnya","sameAs":["http:\/\/statorials.org\/id"]}]}},"yoast_meta":{"yoast_wpseo_title":"","yoast_wpseo_metadesc":"","yoast_wpseo_canonical":""},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/483"}],"collection":[{"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=483"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/483\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=483"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=483"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/statorials.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=483"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}